Inilah aku,...Setyo Djatiatmuko yang lahir di Balikpapan di taon 1980. Ga ada yang pantas terucap selain rasa syukurku kepada RABBku Allah SWT yang senantiasa memberikanku kesehatan, mangaruniakan nikmat hidup dan nikmat Islam. Aku orang yang hidup sebagai anak dari Bp. Surat Sejati dan Ibu Sumiati.... Alhamdulillah berkat binaan dan bimbingannya hingga sekarang, aku bisa besar, tumbuh dan tetap berusaha memiliki semangat agar menjadi manusia yang berguna.
RM.Torani-Balikpapan
Kamis, 08 Juli 2010
Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam !!
Rabu, 07 Juli 2010
Jendela Kisah Orang-orang terkenal yang telah Mualaf
Erik Meijer: Islam Itu Bisa Diterima Logika
Perkenalannya dengan Islam bermula dari obrolan yang sering dilakukan dengan pacar sang adik tatkala berkunjung ke rumah orang tuanya di Belanda. Dari awalnya sekadar membicarakan masalah-masalah umum, obrolan tersebut berkembang menjadi sebuah diskusi panjang tentang agama yang dianut oleh pacar sang adik.
'Kebetulan adik saya pacaran dengan orang Turki. Turki itu kan mayoritas Islam. Dari dia, saya banyak mengetahui tentang Islam,' ujar Erik Meijer mengenang peristiwa 20 tahun lalu dalam hidupnya.
Ketertarikannya akan agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini semakin besar, saat Erik pindah ke Indonesia. Sebagai sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim, ia melihat ajaran Islam di Indonesia lebih hidup dibandingkan di negaranya, negeri kincir angin, Belanda.
Meskipun saat awal tinggal di Indonesia masih memeluk agama katolik, Erik sudah tidak aktif datang ke gereja. 'Karena dalam keseharian, saya melihat ajaran Islam benar-benar menghidupi masyarakat di sini (Indonesia--Red). Dari situ, kemudian saya mulai merasa ada sesuatu yang hilang,' tuturnya.
Terlebih lagi, bagi dia sebagai seorang pribadi yang menilai segala sesuatunya dengan logika, menurut Erik, semua ajaran dalam agama Islam masuk akal. Contohnya, kewajiban untuk berpuasa. Ia melihat ada filosofi di belakang kewajiban berpuasa, baik dari sisi spiritual maupun fisik.
Allah lalu mempertemukan Erik dengan Maudy Koesnaedi yang di kemudian hari menjadi istrinya. Selama menjalin pertemanan dengan mantan none Jakarta tahun 1993 yang juga berprofesi sebagai artis ini, ia banyak dikenalkan kepada ustadz dan cendekiawan Muslim di Tanah Air. Salah satunya adalah Ustadz Othman Umar Shihab dan (Alm) Nurcholis Madjid (Cak Nur).
Walaupun Maudy berasal dari keluarga pemeluk Islam, menurut Erik, istrinya itu tidak pernah memaksa dia untuk berpindah keyakinan. Di matanya, Maudy adalah sosok perempuan yang tidak suka menggurui dan sok tahu.
Sang istri hanya memberikan jalan dan peluang untuknya mempelajari Islam lebih jauh. 'Kalau kamu memang tertarik dengan Islam, kamu harus mempelajarinya,' kata ayah satu orang putra ini mengutip perkataan sang istri kala itu.
Setelah mempelajari Islam selama lima tahun lamanya, Erik merasa mantap dan yakin untuk memilih agama Islam sebagai jalan hidupnya. Dengan difasilitasi oleh Ustadz Othman Umar Shihab, ia mengucapkan dua kalimat syahadat pada Februari 2001 silam. 'Saya berikrar masuk Islam disaksikan Cak Nur (alm) ketika itu,' ungkapnya.
Erik cukup beruntung. Keputusannya untuk memeluk agama Islam tidak mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Dalam hal memilih keyakinan, diakuinya, kedua orang tuanya lebih moderat. 'Bagi mereka, semua agama pada dasarnya sama, mengajarkan kebaikan.' Bahkan, dari sang adik, ia mendapatkan dukungan penuh. Adik perempuan satu-satunya ini memang sudah lebih dahulu menyatakan masuk Islam dibandingkan dirinya.
semua ajaran dalam agama Islam masuk akal
Hambatan justru datang dari teman-teman pergaulannya. Mengetahui Erik masuk Islam, seorang teman membujuknya untuk meninggalkan agama Islam dan kembali pada agama Katolik. 'Mungkin mereka kecewa dengan keputusan saya ini. Tapi, saya anggap itu hal yang wajar,' tukasnya.
Begitu masuk Islam, kendala yang ia temui pertama kali terkait dengan perbedaan bahasa. Kitab suci umat Muslim yang menggunakan bahasa Arab, membuatnya kesulitan untuk bisa cepat mengingat dan menghapal bacaan dalam shalat. Untuk bisa hapal surat al-Fatihah, kata Erik, ia butuh waktu tiga hingga empat bulan.
Kesulitan untuk bisa menghapal dengan cepat surat-surat lain dalam Alquran masih ia rasakan sampai saat ini. 'Terlebih lagi, di usia saya yang sudah kepala tiga. Mungkin akan berbeda kalau saya menghapalnya saat usia masih dini, seperti anak saya,' ujarnya.
Demikian juga, dengan kewajiban shalat. Butuh waktu agak lama bagi Erik untuk mengingat urutan gerakan dalam shalat. Terkadang saat sedang melakukan shalat, seringkali ia lupa gerakan berikutnya. Beruntung sang istri dengan sabar mau membimbingnya dalam menjalankan ibadah.
Begitu pun, dengan beberapa orang kenalan dekatnya yang siap membantu. 'Seperti, Pak Arief Rachman yang bersedia menuliskan potongan-potongan surat al-Fatihah dalam kartu ukuran kecil sehingga ke mana pun bisa saya kantongi dan bisa saya hapal setiap ada kesempatan,' terangnya.
Namun, tidak sepenuhynya ia menemui kesulitan. Waktu lima tahun yang ia gunakan untuk mengenal Islam lebih jauh, dirasakannya berguna saat menjalankan semua perintah Allah SWT, manakala dirinya sudah masuk Islam secara resmi. Contohnya, dalam menjalankan ibadah puasa, ia tidak menemui hambatan sama sekali. Pasalnya, jauh sebelum masuk Islam, ia sudah mulai belajar untuk berpuasa. Meskipun, diakui Erik, yang dijalankannya saat itu belum benar-benar puasa dalam arti sesungguhnya.
'Jam tujuh pagi saya tetap sarapan. Jadi, hanya sekadar tidak makan di siang hari demi menghormati teman-teman yang sedang berpuasa. Waktu itu, rasanya memang berat sekali meskipun sudah curi start tiga hingga empat jam di awal. Namun, begitu menjalankan puasa secara resmi, pakai niat, sahur, dan shalat, ternyata jauh lebih mudah dan lancar. Mungkin di situ bedanya kalau kita sekadar ikut-ikutan,' paparnya.
Meskipun sudah memeluk Islam selama delapan tahun, diakui Erik, hingga saat ini ia masih jauh dari sempurna. Dia merasa belum benar-benar berusaha untuk mendalami lebih jauh mengenai ajaran Islam. Waktunya yang lebih banyak tersita untuk urusan pekerjaan, membuat intensitasnya untuk mendalami surat-surat dalam Alquran berkurang.
'Dalam mempelajari Alquran, saya selalu berpegang pada falsafah tidak hanya sekadar menghapal dan membacanya, tetapi juga harus mengetahui arti dan maknanya,' tuturnya.
Kendati demikian, ia berusaha untuk terus meramaikan syiar Islam di lingkungan tempatnya bekerja. Salah satunya, dengan menyelenggarakan kegiatan majelis taklim dan pengajian bagi para karyawan. Sementara untuk lingkup yang lebih luas, melalui perusahaan tempatnya bekerja, Erik menyelenggarakan lomba cipta kreasi lagu Islam.
Ketertarikannya akan agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini semakin besar, saat Erik pindah ke Indonesia. Sebagai sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim, ia melihat ajaran Islam di Indonesia lebih hidup dibandingkan di negaranya, negeri kincir angin, Belanda.
Meskipun saat awal tinggal di Indonesia masih memeluk agama katolik, Erik sudah tidak aktif datang ke gereja. 'Karena dalam keseharian, saya melihat ajaran Islam benar-benar menghidupi masyarakat di sini (Indonesia--Red). Dari situ, kemudian saya mulai merasa ada sesuatu yang hilang,' tuturnya.
Terlebih lagi, bagi dia sebagai seorang pribadi yang menilai segala sesuatunya dengan logika, menurut Erik, semua ajaran dalam agama Islam masuk akal. Contohnya, kewajiban untuk berpuasa. Ia melihat ada filosofi di belakang kewajiban berpuasa, baik dari sisi spiritual maupun fisik.
Allah lalu mempertemukan Erik dengan Maudy Koesnaedi yang di kemudian hari menjadi istrinya. Selama menjalin pertemanan dengan mantan none Jakarta tahun 1993 yang juga berprofesi sebagai artis ini, ia banyak dikenalkan kepada ustadz dan cendekiawan Muslim di Tanah Air. Salah satunya adalah Ustadz Othman Umar Shihab dan (Alm) Nurcholis Madjid (Cak Nur).
Walaupun Maudy berasal dari keluarga pemeluk Islam, menurut Erik, istrinya itu tidak pernah memaksa dia untuk berpindah keyakinan. Di matanya, Maudy adalah sosok perempuan yang tidak suka menggurui dan sok tahu.
Sang istri hanya memberikan jalan dan peluang untuknya mempelajari Islam lebih jauh. 'Kalau kamu memang tertarik dengan Islam, kamu harus mempelajarinya,' kata ayah satu orang putra ini mengutip perkataan sang istri kala itu.
Setelah mempelajari Islam selama lima tahun lamanya, Erik merasa mantap dan yakin untuk memilih agama Islam sebagai jalan hidupnya. Dengan difasilitasi oleh Ustadz Othman Umar Shihab, ia mengucapkan dua kalimat syahadat pada Februari 2001 silam. 'Saya berikrar masuk Islam disaksikan Cak Nur (alm) ketika itu,' ungkapnya.
Erik cukup beruntung. Keputusannya untuk memeluk agama Islam tidak mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Dalam hal memilih keyakinan, diakuinya, kedua orang tuanya lebih moderat. 'Bagi mereka, semua agama pada dasarnya sama, mengajarkan kebaikan.' Bahkan, dari sang adik, ia mendapatkan dukungan penuh. Adik perempuan satu-satunya ini memang sudah lebih dahulu menyatakan masuk Islam dibandingkan dirinya.
semua ajaran dalam agama Islam masuk akal
Hambatan justru datang dari teman-teman pergaulannya. Mengetahui Erik masuk Islam, seorang teman membujuknya untuk meninggalkan agama Islam dan kembali pada agama Katolik. 'Mungkin mereka kecewa dengan keputusan saya ini. Tapi, saya anggap itu hal yang wajar,' tukasnya.
Begitu masuk Islam, kendala yang ia temui pertama kali terkait dengan perbedaan bahasa. Kitab suci umat Muslim yang menggunakan bahasa Arab, membuatnya kesulitan untuk bisa cepat mengingat dan menghapal bacaan dalam shalat. Untuk bisa hapal surat al-Fatihah, kata Erik, ia butuh waktu tiga hingga empat bulan.
Kesulitan untuk bisa menghapal dengan cepat surat-surat lain dalam Alquran masih ia rasakan sampai saat ini. 'Terlebih lagi, di usia saya yang sudah kepala tiga. Mungkin akan berbeda kalau saya menghapalnya saat usia masih dini, seperti anak saya,' ujarnya.
Demikian juga, dengan kewajiban shalat. Butuh waktu agak lama bagi Erik untuk mengingat urutan gerakan dalam shalat. Terkadang saat sedang melakukan shalat, seringkali ia lupa gerakan berikutnya. Beruntung sang istri dengan sabar mau membimbingnya dalam menjalankan ibadah.
Begitu pun, dengan beberapa orang kenalan dekatnya yang siap membantu. 'Seperti, Pak Arief Rachman yang bersedia menuliskan potongan-potongan surat al-Fatihah dalam kartu ukuran kecil sehingga ke mana pun bisa saya kantongi dan bisa saya hapal setiap ada kesempatan,' terangnya.
Namun, tidak sepenuhynya ia menemui kesulitan. Waktu lima tahun yang ia gunakan untuk mengenal Islam lebih jauh, dirasakannya berguna saat menjalankan semua perintah Allah SWT, manakala dirinya sudah masuk Islam secara resmi. Contohnya, dalam menjalankan ibadah puasa, ia tidak menemui hambatan sama sekali. Pasalnya, jauh sebelum masuk Islam, ia sudah mulai belajar untuk berpuasa. Meskipun, diakui Erik, yang dijalankannya saat itu belum benar-benar puasa dalam arti sesungguhnya.
'Jam tujuh pagi saya tetap sarapan. Jadi, hanya sekadar tidak makan di siang hari demi menghormati teman-teman yang sedang berpuasa. Waktu itu, rasanya memang berat sekali meskipun sudah curi start tiga hingga empat jam di awal. Namun, begitu menjalankan puasa secara resmi, pakai niat, sahur, dan shalat, ternyata jauh lebih mudah dan lancar. Mungkin di situ bedanya kalau kita sekadar ikut-ikutan,' paparnya.
Meskipun sudah memeluk Islam selama delapan tahun, diakui Erik, hingga saat ini ia masih jauh dari sempurna. Dia merasa belum benar-benar berusaha untuk mendalami lebih jauh mengenai ajaran Islam. Waktunya yang lebih banyak tersita untuk urusan pekerjaan, membuat intensitasnya untuk mendalami surat-surat dalam Alquran berkurang.
'Dalam mempelajari Alquran, saya selalu berpegang pada falsafah tidak hanya sekadar menghapal dan membacanya, tetapi juga harus mengetahui arti dan maknanya,' tuturnya.
Kendati demikian, ia berusaha untuk terus meramaikan syiar Islam di lingkungan tempatnya bekerja. Salah satunya, dengan menyelenggarakan kegiatan majelis taklim dan pengajian bagi para karyawan. Sementara untuk lingkup yang lebih luas, melalui perusahaan tempatnya bekerja, Erik menyelenggarakan lomba cipta kreasi lagu Islam.
Mantan Pendeta : Dapat Hidayah Lewat Mimpi
Kalau hidayah Allah sudah datang, tidak ada sesuatu yang mustahil. Hal inilah yang dialami Yahya Yopie. Meski dia adalah mantan pendeta, tetapi bersama keluarga besarnya dia menyatakan memilih Islam. Apa yang membuat dia tertariki masuk Islam? Berikut liputannya.
WARGA di kota Tolitoli di pengujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa. ( True Story : simak pengakuannya )
Di salah satu rumah kos, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di tempat inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya, Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.
Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.
Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.
MANTAN PENDETA
Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006.
Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006.
Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006. Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada yang menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden, dan kursi.
Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga, barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.
Penataan interior rumah kos Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi Ayat Kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran.
"Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp 2,5 juta," rinci Yahya.
Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani.
"Hanya lima menit saya diajarkan, saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal," ujar Yahya.
Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani.
"Hanya lima menit saya diajarkan, saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal," ujar Yahya.
KETEMU PENJUAL IKAN
Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya, sosok pria yang lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal.
Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya, sosok pria yang lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal.
"Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal," tukasnya. Lantaran kenakalannya itulah, mungkin, beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya.
"Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika," katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu. Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.
"Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya," cerita Yahya.
Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam. Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah.
"Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya," cerita Yahya.
MIMPI ANEH
Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari Dusun Doyan, Desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.
Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari Dusun Doyan, Desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.
Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red) tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya.
"Malah saya dianggap sudah gila," katanya.
"Malah saya dianggap sudah gila," katanya.
Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. "Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar," ujar Yahya mengisahkan.
Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.
"Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu," cerita Yahya.
Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.
"Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya," tutur Yahya.
Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah.
"Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak," tandasnya. Alhamdulillah, sekarang kita semua bias bersatu dan seiman.
Aminah Islam : Melalui Seorang Juru Masak, Profesor Austria Temukan Islam
Ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan taat. Namun ia mengenal Islam melalui seorang juru masa restoran. Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional.
Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 tahun kembali ke Austria dan meneruskan studi lanjutnya di Salzburg University hingga meraih gelar doktor ilmu Biologi. Selanjutnya diterima sebagai dosen dan peneliti di almamaternya. Hingga, dalam sebuah perjalanan ke Mesir, ia menemukan hidayah melalui perantaraan seorang juru masak hotel yang kemudian jadi suaminya. Itulah dia Prof. Dr. Aminah Islam (54), Guru Besar Ilmu Biologi pada Universitas Salzburg yang memeluk Islam Ramadhan 2004 silam. Wanita yang malu difoto karena belum berjilbab itu menceritakan kisah perjalanan spiritualnya di situs Islam terkemuka www.readingislam.com .
“Saya lahir di Linz, Austria tahun 1953. Namun menghabiskan masa kecil di Muenchen, Jerman hingga akhirnya pindah ke Salzburg, Austria kala berusia 16 tahun,” ujar Prof. Aminah di awal tulisannya. Dikatakannya, ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan yang taat. Keluarganya juga mengajarkan pendidikan etika dan moral.
Semasa remaja Aminah tidak mengikuti aktifitas di gereja Protestan. Alhasil, orangtuanya lalu memintanya untuk aktif di gereja Evangelis dan segera menjadi anggota aktif serta menjadi ketua salah satu kelompok pelajar. Ia belajar Bibel dan yakin dengan dogma bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Demikian juga ia yakini Yesus mati disalib guna menebus dosa-dosa pengikutnya.
Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya. Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.
Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (part time) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.
Setelah menyelesaikan program doktor, Aminah kemudian menikah dan prosesinya berlangsung di gereja. Dari permenikahan itu ia memiliki dua orang anak. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena alasan tak ada keharmonisan kemudian cerai. Sejak saat itu ia sudah mulai meninggalkan gereja.
Diterima menjadi dosen
Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. “Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,” ujarnya mengenang.
Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. “Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,” ujarnya mengenang.
Kemudian ia memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Ketika itu ia juga masih dalam proses mencari kebenaran. Namun pernikahan kedua itu juga bak bencana dan akhirnya cerai lagi. Mirip dengan kasus pertama.
“Waktu itu suami yang kedua itu mengambil keuntungan dari pekerjaan saya sebagai dosen. Sementara ia hanya santai saja tanpa ada upaya untuk mencari dukungan financial lainnya. Sakitnya lagi, ia bahkan tidak peduli terhadap anak-anak,” tukasnya lagi. Syukurnya saat cerai yang kedua itu Aminah sudah meraih posisi sebagai profesor dan memegang tanggungjawab penuh pekerjaan di kampus.
“Namun saya merasa belum mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pekerjaan pun dobel dan bahkan melebihi kapasitas. Ya mengajar, mengasuh anak-anak, mengurus rumah. Hingga saya kelelahan fisik dan psikis sampai akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Namun saya masih bisa bertahan, itu karena anak-anak,” akunya.
Selepas perceraian kedua, Aminah mengaku hidup bersama tanpa nikah dengan seorang pria yang usianya lebih muda 9 tahun dengannya. Hidup bersama tanpa nikah adalah hal lazim di dunia Barat.
“Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang. Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,” imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.
Berkenalan dengan Islam
“Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang saya tahu –melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,” ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.
“Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang saya tahu –melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,” ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.
Sampai akhirnya situasi berubah secara tak terduga. Ceritanya, September 2002 ia bersama koleganya berencana menghabiskan liburan selama sepekan.
“Kami booking penerbangan pas detik-detik akhir. Syukurlah akhirnya dapat tawaran murah ke Mesir. Saya memang lagi ingin rilek, mengatur irama hidup kembali selepas lelah bekerja, dan berharap menemukan kebenaran yang kucari. Jujur saja, tidak ada lagi keinginan untuk menemukan pria idaman sebagai suami,” ujarnya seraya melanjutkan kisahnya.
“Kala itu, persis di sore pertama kami di hotel saya pergi ke restoran untuk makan malam. Eh entah bagaimana saya bertemu pandang dengan seorang pria yang terakhir saya ketahui bernama Walid. Ia juru masak di hotel itu. Kala mata kami bertemu, hati saya bergetar aneh. Ah saya jatuh cinta lagi!. Walid menceritakan, selepas menjadi suami saya, bahwa ia juga mengalami hal yang sama pada pandangan pertama itu,” kisah Aminah lagi.
Setelah kejadian itu hampir dua hari mereka tidak bertemu sampai kemudian Walid menulis sepucuk surat. Isi surat pertamanya itu Walid langsung mengajak Aminah untuk nikah.
“Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),” kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.
“Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,” tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jerman.
Menikah diam-diam
Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.
Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.
“Saya diajak bertemu keluarga besarnya itu. Sore pertama di sana, akhirnya kami sepakat untuk menikah secara Islam. Hanya melalui bantuan penghulu setempat di desa itu. Kesannya kami menikah secara diam-diam. Semata-mata untuk menghindari kemaksiatan. Walid sangat komit dengan ajaran agamanya, bahwa laki-laki dan perempuan yang belum ada ikatan pernikahan haram melakukan hubungan yang dilarang agama.”
Setelah perjalanan kali kedua itu, Aminah sempat ke Mesir beberapa kali hingga akhirnya kami bisa menikah secara resmi di Kairo.
“Saya sungguh sangat bahagia waktu itu. kami pun segera mengurus visa Walid untuk memperoleh ijin berkunjung ke luar negeri. Akhirnya Walid bisa ke Austria persis setahun selepas pertemuan pertama kami di hotel,” kenangnya.
Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu Muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.
Segera selepas kedatangan suaminya ke Austria, merekapun mengadakan kontak dengan mesjid yang ada di kota Salzburg. Ia menerima hadiah beberapa buku. Salah satu yang sangat berkesan adalah buku “Bible, Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam” karangan Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis. Buku itu sangat sesuai dengan aktivitas yang ia tekuni saat ini. Ia baru tahu, semua pernyataan ilmiah yang ada dalam Quran ternyata sangat sesuai dengan hasil-hasil penelitian terkini. Matanya makin terbuka.
“Al-Quran ternyata tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan dunia, tapi juga semua pernyataan di dalamnya, semisal ilmu-ilmu alam, tidak kontradiksi dengan kenyataan,” ujarnya. Bagi Prof Aminah yang seorang saintis ilmu alam, tentu saja penjelasan
Al-Quran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam. “Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, Al-Quran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi Al-Quran,” tegasnya.
Mengucap dua kalimah syahadah
Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).
Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).
“Tak ada keraguan sama sekali. Saya bahkan menginginkan agar prosesi itu dilaksanakan di rumah kami dengan mengundang beberapa saudara terdekat, Muslim dan Muslimah. Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2004 saya mengukir sejarah hidup, bersyahadah disaksikan suami, anak-anak dan beberapa rekan-rekan kami. Sungguh, saya sangat bahagia. Bahagia sekali bisa menjadi bagian dari umat Islam,” kenangnya.
Mulai saat itu Prof. Fatimah berupaya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaannya kepada Allah, demikian juga pengetahuannya tentang Islam. Dan, berusaha sebaik mungkin melaksanakan ajarannya. Shalat misalnya, ternyata jauh-jauh hari ia telah belajar bagaimana menunaikan salah satu tiang agama Islam itu. Juga ia mulai berpuasa di bulan Ramadhan.
Di akhir penuturannya, ia mengakui masih ada dua masalah yang tersisa. Pertama, ia masih ragu memberitahukan hal keislamannya itu kepada kedua orangtuanya.
“Meskipun mereka telah tahu pendapat saya tentang Islam, tapi saya belum bisa beritahu bahwa saya sudah masuk Islam. Mereka sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Takutnya, jika mereka terkejut bisa berbahaya bagi kesehatan. Tapi ini hanya masalah waktu saja,” ungkapnya.
“Satu lagi masalah yang masih mengganjal, saya belum bisa mengenakan jilbab di tempat kerja. Memang Austria tidak ada masalah dengan Islam yang telah jadi agama negara. Namun masalahnya, masyarakat atau lingkungan di universitas saya bekerja masih tabu dengan itu.”
Profesor Fatimah mengaku, kendati begitu ia tetap berjuang untuk jilbabnya itu. Buktinya, dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bicara dan menjelaskan tentang Islam.
“Alhamdulillah, Allah akhirnya menolong saya menemukan jalan kebenaran yang telah lama saya cari. Karena itu saya berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Di lingkungan kerja, saya mencoba mempraktekkan ajaran Islam yang saya ketahui dengan memberikan contoh-contoh yang bagus,” tukasnya mengakhiri penuturannya kepada Readingislam. Selamat, semoga hidayah Allah kekal bersamamu saudaraku Fatimah!
Al-Qur’an memberikan ilustrasi bahwa bentuk siksaan kepada orang-orang yang durhaka berupa derita sangat pedih yang diakibatkan luka bakar dikulit.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 4:56.).
Professor Tejatat Tejasen is the Chairman of the Department of Anatomy pada Chiang Mai University, Chiang Mai, Thailand masuk Islam setelah baca ayat diatas...
Menarik ditinjau dari perspektif kedokteran mengapa penyebutan kulit dikaitkan dengan sensasi nyeri yang diderita para penghuni api jahanam itu.
Menurut defenisi IASP (International Association for the Study of Pain) 1979, nyeri didefenisikan sebagai sensori (rasa indrawi) dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi rusak, atau tergambarkan seperti itu. Menyitir salah satu defenisi tersebut, proses yang obyektif nyata yang terjadi bila nyeri muncul adalah akibat kerusakan jaringan.
Kerusakan ini bisa disebabkan pelbagai faktor (trauma fisik, trauma kimiawi trauma thermis dll).
AKHIR UJUNG SYARAF BEBAS
Mungkin secara awam, orang banyak menduga bahwa seluruh bagian tubuh kita sensitif terhadap perasaan nyeri, ternyata setelah ilmu anatomi dan fisiologi berkembang; dugaan seperti itu tidak benar sama sekali. Ada bagian-bagian tertentu dalam tubuh kita yang berperan spesifik untuk merespons atau mengantar sensasi nyeri, yakni ujung syaraf bebas. Dan ternyata tidak semua ujung-ujung syaraf berperan sebagai sarana pengangkut sensasi nyeri, ternyata kini diketahui hanya 2 tipe serabut syaraf yang berperan sebagai pengangkut nyeri yakni syaraf C dan A (delta).
Mungkin secara awam, orang banyak menduga bahwa seluruh bagian tubuh kita sensitif terhadap perasaan nyeri, ternyata setelah ilmu anatomi dan fisiologi berkembang; dugaan seperti itu tidak benar sama sekali. Ada bagian-bagian tertentu dalam tubuh kita yang berperan spesifik untuk merespons atau mengantar sensasi nyeri, yakni ujung syaraf bebas. Dan ternyata tidak semua ujung-ujung syaraf berperan sebagai sarana pengangkut sensasi nyeri, ternyata kini diketahui hanya 2 tipe serabut syaraf yang berperan sebagai pengangkut nyeri yakni syaraf C dan A (delta).
Ujung akhiran syaraf (NERVE ENDING) penghantar nyeri tersebut secara histologis “hanya terdapat pada lapisan kulit (dermis) saja !”.
Bila dokter mau melakukan sebuah sayatan bedah, maka dokter biasanya menyuntikkan obat blok terhadap syaraf tersebut (anestetik local) hal itu dimaksudkan agar signal nyeri akibat kerusakan jaringan tidak diteruskan ke sentral sehingga pasien yang tengah diiris, dipotong, disayat jaringan tubuhnya tidak merasa sakit sama sekali. Dan agar diketahui, sensasi sakit tersebut hanya ada pada lapisan kulit saja (otot, lapisan lemak tidak menyebabkan sensasi sakit sama sekali bila dilukai).
Itulah mengapa Qur’an mengatakan ”Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab....”
SEMPURNANYA LUKA BAKAR
Diantara semua bentuk musibah fisik yang dialami manusia, boleh dibilang kecelakaan akibat luka bakar merupakan musibah yang paling sial dari semua musibah-musibah yang ada dimuka bumi. Komplikasi akibat luka bakar sangat kompleks (dari ujung rambut hingga ujung kaki) dan sukar ditangani, biasanya pasien-pasien yang menderita luka bakar dengan prosentasi yang tinggi akan meninggal dunia, sukar memanage korban luka bakar.
Diantara semua bentuk musibah fisik yang dialami manusia, boleh dibilang kecelakaan akibat luka bakar merupakan musibah yang paling sial dari semua musibah-musibah yang ada dimuka bumi. Komplikasi akibat luka bakar sangat kompleks (dari ujung rambut hingga ujung kaki) dan sukar ditangani, biasanya pasien-pasien yang menderita luka bakar dengan prosentasi yang tinggi akan meninggal dunia, sukar memanage korban luka bakar.
Mulai dari, pembengkakan pada daerah orofarings, intoksikasi karbon, dehidrasi berat, asidosis, ancaman gagal ginjal, kebocoran kapiler diseluruh tubuh, hingga ancaman sepsis berat akibat infeksi.... semua model symptom menakutkan dan mematikan ada dalam korban ”luka bakar”,
Pantas bila Qur’an menyebut ”pembakaran” adalah model siksaan yang paling pedih, bukan model-model lain seperti (pentungan, pukulan...dsb)
Yahya Schroeder : Dianggap Gila Setelah Menemukan Islam
Sebelumnya, ia menikmati hidup dengan hura-hura. Pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan. Pokoknya “happy." Tapi ia dianggap "gila" setelah menemukan Islam
Namanya Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs www.readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesama saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim.
Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman.
Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. “Mereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,” ungkap pemuda murah senyum itu. Na’uzubillah!.
Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah.
“Jika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam=Arab. Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,” imbuhnya.
Masa remaja penuh ceria
Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. “Aku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya happy,” ujar Yahya mengenang.
Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. “Aku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya happy,” ujar Yahya mengenang.
“Kala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain,” sambungnya.
Memasuki umur 16 tahun ia bersua dengan komunitas Muslim di kota Potsdam melalui perantaraan ayah kandungnya. Ayahnya memang telah duluan memeluk Islam tahun 2001. Ya kendati telah bercerai dengan sang ibu, namun Yahya senantiasa menjenguk ayahnya sekali dalam sebulan dan sering pula menghadiri pengajian warga muslim disana.
Secara perlahan, Yahya mulai tertarik dengan Islam. Rupanya sang ayah memerhatikan gejala itu. Sang Ayah ingin ia belajar lebih jauh tentang Islam dari orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Sejak saat itu Yahya mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya.
Satu ketika, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan, yang nantinya merubah semua jalan hidupnya. “Ceritanya, satu hari aku ikut kawan-kawan pergi berenang. Nah saat melompat ke kolam, aku terpeleset dan jatuh tidak sempurna. Akibatnya, punggungku mengalami retak berat dan kepala berbenturan hebat dengan dasar kolam. Cederaku cukup parah hingga ayah segera melarikanku ke rumah sakit.”
“Di rumah sakit, dokter menyarankan agar jangan banyak bergerak. Cedera punggungku cukup parah yang mengakibatkan engsel tangan kanan bergeser. Katanya: “Nak, janganlah banyak bergerak. Sedikit saja salah bergerak bisa menyebabkan cacat nantinya.” Kalimat dokter itu sungguh sangat tidak membantu. Malah membuatku tertekan luar biasa.”
Sejurus kemudian, sebelum dibawa ke ruang operasi, Ahmir salah seorang sahabatnya berujar.”Yahya, hidupmu kini ada di tangan Allah. Ini mirip seperti sebuah perjudian, antara hidup dan mati. Kini kamu berada di puncak kenikmatan dari sebuah pencarian. Bertahanlah, sabarlah sahabat. Allah pasti bantu.” Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali.
“Operasi berjalan selama lima jam dan aku siuman selepas 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, aku merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa aku tidak peduli dengan cedera yang kualami. Aku justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,” kenang Yahya.
“Dokter mengatakan aku harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi tahukah kawan, aku dirawat cuma dua pekan saja! Itu karena aku latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter datang dan bilang: ”Hari ini kita coba latihan naik tangga ya.” Padahal tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya aku telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,” sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit.
“Kecelakaan itu telah mengubah jalan hidupku. Aku jadi suka merenung. Jika Allah inginkan sesuatu, maka kehidupan seorang individu bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Aku pun mulai serius berpikir tentang hidup ini dan Islam tentunya. Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup disana,”ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam.
Kala pindah ke Potsdam Yahya cuma membawa beberapa lembar pakaian, buku sekolah dan beberapa CD kesayangannya. Ia tinggal sementara di apartemen ayahnya.
“Kecil memang tempatnya, hingga aku musti tidur di dapur. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia, persis seperti kala terjaga dari siuman di rumah sakit selepas kecelakaan hebat itu.”
Mengucap dua kalimah syahadah
Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.
Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.
“Ada teroris”, “Usamah bin Laden datang,” “Islam itu kotor”. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli.
“Aku bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,” tukasnya
Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool! Indah! Subhanallah!
“Perubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan aku melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, kini aku bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal akukah satu-satunya siswa Muslim di sekolah itu,” ujar Yahya senang.
“Mereka baru tahu ternyata Islam punya adab atau tata tertib dalam hidup. Yang menarik bagi mereka, Islam tidak ekslusif, tidak mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok khusus. Seperti di sekolahku ini,” imbuhnya.
Dikatakannya, di sekolah itu ada tiga kelompok utama yakni kelompok yang suka hura-hura. kongkow-kongkow; lalu ada kelompok punk; dan satunya lagi kelompok yang suka pesta-pestaan. Setiap orang selalu mencoba untuk jadi anggota kelompok dari salah satu grup, semata-mata supaya diterima oleh yang lainnya.
“Kecuali aku! Aku tidak masuk kelompok manapun, namun diterima oleh semua mereka. Aku bisa menjadi teman bagi setiap orang. Tidak perlu menggunakan pakaian tertentu supaya dibilang “cool.” Bahkan mereka selalu mengundangku, demikian juga teman-temanku yang Islam pada acara-acara mereka,” kisah Yahya.
Mereka menaruh respek pada Yahya sebagai seorang muslim. Bahkan lebih dari itu, jika ada acara mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan Muslimnya.
“Bukan main! Kini mereka benar-benar terbuka dengan Islam. Aku hanya berdoa agar Allah beri mereka hidayah. Amiin,” harapnya sembari berdoa.
Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. YaYa Productions nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang muallaf dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris.
“Tujuan aku buat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,” ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah.
Masih Banyak lainnya yang belum di muat, InsyaAllah akan saya muat lagi buat pembelajaran kita....
Perjuangan Hidupnya Aminah Assilmi...(NYATA)
Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai Direktur International Union of Muslim Women atau Persatuan Wanita Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman atas keyakinan yang dianutnya kini.
Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya “Choosing Islam”, Aminah menceritakan perjumpaannya dengan Islam.
Berawal dari kesalahan komputer
Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.
Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri, berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan (awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi. Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.
“Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma untuk urusan bisnis,” kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas Theatre, sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan peserta lainnya.
“Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah, juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut,” tambahnya.
Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas alternatif itu.
“Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab. Waktu itu saya menyebut mereka dengan “para penunggang unta”. Kontan gairah saya hilang,” kenangnya.
Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah.“Saya tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!,” tulis Aminah dalam bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.
Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti dituntaskan segera.
Misi Kristenisasi
Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu.
Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi kepada mahasiswi Arab itu.
“Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi kita musti ikuti dia.” terang Aminah yang mengaku heran dengan kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun dengan apa yang diterangkannya.
“Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,” tukasnya lagi.
Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya. Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir satu setengah tahun.
Cari kelemahan Islam
Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.
Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan Islam.
Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu menarik perhatian suaminya. “Sungguh, tanpa saya sadari ada perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti makan babi dan minum-minuman keras,” kisahnya.
Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu. Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain. Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen. Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.
Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya. “Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal untuk memakai jilbab,” ujar Aminah.
Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.
Didatangi lelaki berjubah
Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.
Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk menjadi seorang muslim.
“Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya malam itu,” tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang Islam yang masih menyelubungi pikirannya.
Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan. “Akhirnya, keesokan harinya, dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat itu 21 Mei 1977,” kenangnya.
Dikucilkan Keluarga
Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.
Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang. Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali meninggalkan Islam. “Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari anak-anaknya,” ujar Aminah sedih.
Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam, penderitaan-penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya tenang:
Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S. 2;255).
Anggota keluarga masuk Islam
Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.
Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran. Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.
Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. “Nenek berusia 100 tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia. Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh kebajikan ke akhirat,” kisah Aminah.
Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa (umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas segala kekhilafannya.
Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama “Barakah”.
“Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,” senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.
Tak malu tunjukkan identitas Islam
Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.
Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal, dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika, dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.
Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam berjudul “Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya.”
“Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya. Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena para ibulah yang membentuk generasi masa depan,” ujar Aminah diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan, terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan moncong senapan ke wajahnya. “Itu hanya karena saya berjilbab,” katanya.
Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi derajatnya. “Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat bodoh,” ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing hitam.
Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud meng-Kristen-kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu ‘alam bisshawab.
Sumber : Swaramuslim
Selasa, 06 Juli 2010
Apa itu kepribadian Ganda...?
Dalam kajian psikologi, kita akan mengenal sebuah obyek pembahasan yang dikenal dengan psikologi kepribadian. Tetapi, bagaimanakah perbedaan arti kepribadian bagi masyarakat awam dengan kajian yang dilakukan oleh psikologi. Berikut adalah penjelasannya. Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin: persone, yang berarti kedok atau topeng. Dimana hal ini selalu dipakai pada zaman romawi dalam melakukan sandiwara panggung. Lambat laun kata persona (personality) berubah istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima individu dari kelompok atau masyarakat.
Sehingga kemudian individu diharapkan akan berperilaku sesuai dengan peran atau gambaran sosial yang diterimanya. Pengertian ini biasanya muncul dengan ungkapan seperti: “Didi berkepribadian pahlawan.” Atau “Dewi berkepribadian kartini sejati.”
Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.
Dari penjelasan diatas bisa diperoleh gambaran bahwa kepribadian, menurut pengertian sehari-hari atau masyarakat awam, menunjuk pada gambaran bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu yang lainnya.
Anggapan seperti ini sangatlah mudah dimengerti, tetapi juga sangat tidak bisa mengartikan kepribadian dalam arti yang sesungguhnya. Karena mengartikan kepribadian berdasarkan nilai dan hasil evaluatif. Padahal kerpibadian adalah sesuatu hal yang netral, dimana tidak ada baik dan buruk. Kepribadian juga tidak terbatas kepada hal yang ditampakkan individu saja, tetapi juga hal yang tidak ditampakkan individu, serta adanya dinamika kepribadian, dimana kepribadian bisa berubah tergantung situasi dan lingkungan yang dihadapi seseorang.
Kepribadian menurut psikologi
Pengertian kepribadian menurut disiplin psikologi bisa diambil dari rumusan beberapa teoris kepribadian terkemuka. Gordon Allport, merumuskan kepribadian adalah organisasi dinamis sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.
Seperti yang dikisahkan Feist & Feist, Allport memilih tiap frase dalam mendefinisikan dengan hati-hati, sehingga benar-benar menyatakan apa yang ingin ia katakan.
Istilah ”organisasi dinamis” menunjukkan suatu integrasi atau saling keterkaitan dari berbagai aspek kepribadian. Kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola. Bagaimanapun, kepribadian bukan suatu organisasi yang statis, melainkan secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.
Istilah ”psikofisik” menekankan pentingnya aspek psikologis dan fisik dari kepribadian. Kata ”menentukan” dalam definisi kepribadian menunjukkan bahwa kepribadian ”merupakan sesuatu dan melakukan sesuatu”. Kepribadian bukanlah topeng yang secara tetap dikenakan seseorang; dan juga bukan perilaku sederhana. Kepribadian menunjuk orang di balik perilakunya atau organisme di balik tindakannya.
Dengan kata ”karakteristik” Allport ingin menunjukkan sesuatu yang unik atau individual. Kepribadian seseorang bersifat unik, tidak dapat diduplikasi (ditiru) oleh siapa pun. Kata ”perilaku dan pikiran” secara sederhana menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, baik perilaku internal (pikiran-pikiran) maupun perilaku-perilaku eksternal seperti berkata-kata atau tindakan.
Berdasarkan penjelasan Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.
Meskipun mengalami perubahan, kepribadian merupakan karakteristik yang relatif stabil. Hal ini sesuai penjelasan Allport bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola.
Pandangan orang secara umum mengenai kepribadian sebagai sesuatu yang ajek, konsisten, dan tidak berubah, tidak sepenuhnya salah. Namun, perlu diingat bahwa keadaan yang relatif stabil itu juga mengalami pertumbuhan dan perubahan.
Daftar Pustaka
Sujanto, Agus, Lubis, Halem, Hadi, Taufik. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara
Koeswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco
Feist, Jess & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality, Sixth ed. Boston: Mc-Graw Hill.
Sumber Lain :
Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin: persone, yang berarti kedok atau topeng. Dimana hal ini selalu dipakai pada zaman romawi dalam melakukan sandiwara panggung. Lambat laun kata persona (personality) berubah istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima individu dari kelompok atau masyarakat.
Sehingga kemudian individu diharapkan akan berperilaku sesuai dengan peran atau gambaran sosial yang diterimanya. Pengertian ini biasanya muncul dengan ungkapan seperti: “Didi berkepribadian pahlawan.” Atau “Dewi berkepribadian kartini sejati.”
Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.
Dari penjelasan diatas bisa diperoleh gambaran bahwa kepribadian, menurut pengertian sehari-hari atau masyarakat awam, menunjuk pada gambaran bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu yang lainnya.
Anggapan seperti ini sangatlah mudah dimengerti, tetapi juga sangat tidak bisa mengartikan kepribadian dalam arti yang sesungguhnya. Karena mengartikan kepribadian berdasarkan nilai dan hasil evaluatif. Padahal kerpibadian adalah sesuatu hal yang netral, dimana tidak ada baik dan buruk. Kepribadian juga tidak terbatas kepada hal yang ditampakkan individu saja, tetapi juga hal yang tidak ditampakkan individu, serta adanya dinamika kepribadian, dimana kepribadian bisa berubah tergantung situasi dan lingkungan yang dihadapi seseorang.
Kepribadian menurut psikologi
Pengertian kepribadian menurut disiplin psikologi bisa diambil dari rumusan beberapa teoris kepribadian terkemuka. Gordon Allport, merumuskan kepribadian adalah organisasi dinamis sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.
Seperti yang dikisahkan Feist & Feist, Allport memilih tiap frase dalam mendefinisikan dengan hati-hati, sehingga benar-benar menyatakan apa yang ingin ia katakan.
Istilah ”organisasi dinamis” menunjukkan suatu integrasi atau saling keterkaitan dari berbagai aspek kepribadian. Kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola. Bagaimanapun, kepribadian bukan suatu organisasi yang statis, melainkan secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.
Istilah ”psikofisik” menekankan pentingnya aspek psikologis dan fisik dari kepribadian. Kata ”menentukan” dalam definisi kepribadian menunjukkan bahwa kepribadian ”merupakan sesuatu dan melakukan sesuatu”. Kepribadian bukanlah topeng yang secara tetap dikenakan seseorang; dan juga bukan perilaku sederhana. Kepribadian menunjuk orang di balik perilakunya atau organisme di balik tindakannya.
Dengan kata ”karakteristik” Allport ingin menunjukkan sesuatu yang unik atau individual. Kepribadian seseorang bersifat unik, tidak dapat diduplikasi (ditiru) oleh siapa pun. Kata ”perilaku dan pikiran” secara sederhana menunjuk pada sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, baik perilaku internal (pikiran-pikiran) maupun perilaku-perilaku eksternal seperti berkata-kata atau tindakan.
Berdasarkan penjelasan Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.
Meskipun mengalami perubahan, kepribadian merupakan karakteristik yang relatif stabil. Hal ini sesuai penjelasan Allport bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola.
Pandangan orang secara umum mengenai kepribadian sebagai sesuatu yang ajek, konsisten, dan tidak berubah, tidak sepenuhnya salah. Namun, perlu diingat bahwa keadaan yang relatif stabil itu juga mengalami pertumbuhan dan perubahan.
Daftar Pustaka
Sujanto, Agus, Lubis, Halem, Hadi, Taufik. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara
Koeswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco
Feist, Jess & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality, Sixth ed. Boston: Mc-Graw Hill.
Sumber Lain :
Manusia dilahirkan tanpa dosa bahkan tanpa pakaian sekalipun alias bugil. Tak pernah diberi tahu akan menjadi apa dan siapa . Namun satu hal yang pasti sebuah tanggungjawab bahkan lebih dari itu, telah dibebankan 'diamanahkan' kepada manusia itu. Perlahan namun pasti manusia mulai beranjak dewasa baik dewasa secara fisik maupun mental. Di saat - saat inilah terjadi suatu proses yang dinamakan sebagian orang dengan "pencarian jati diri" dan di saat ini pulalah kepribadian seorang manusia ditentukan.
Bicara tentang kepribadian, ada suatu kondisi yang dikenal dengan manusia berkepribadian ganda. Menurut beberapa sumber, kepribadian ganda adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami disintegrasi kondisi ego sebagai senjata untuk menjauhkan pengalaman buruknya dari dirinya, sehingga dia dapat menjalani hidup sehari-hari sebagai orang lain yang seolah tidak pernah mengalami pengalaman traumatik tersebut. Setiap pribadi menguasai tubuh si penderita secara bergantian, dan mengakibatkan setiap “pribadi” mengalami amnesia pada saat pribadi-pribadi yang lain sedang aktif. Sedangkan sumber yang lain mengatakan bahwa kepribadiaan ganda adalah salah satu bentuk keterbelakangan psikologis akibat trauma masa kecil. Is that's true???
So, jika kepribadian ganda termasuk keterbelakangan mental, bisa jadi ini fakta yang sangat menyakitkan bagi orang - orang yang selama ini "mengindap kepribadian ganda". Namun, sungguh sangat ironis kadang - kadang kepribadian ganda malah timbul secara tidak sengaja dan kadang juga sengaja. Apakah ini membuktikan bahwa kepribadian ganda termasuk keterbelakangan mental yang sengaja terbentuk akibat manusia yang suka "curhat kepada diri sendiri"??
Jika anda termasuk orang yang suka curhat kepada diri sendiri dan seolah - olah selalu mampu menyelesaikan persoalan pribadi sendirian tanpa merasa butuh orang lain, maka anda termasuk orang berkepribadian ganda. that's mean.............keterbelakangan mental !!.
Anda tidak setuju?!
Bicara tentang kepribadian, ada suatu kondisi yang dikenal dengan manusia berkepribadian ganda. Menurut beberapa sumber, kepribadian ganda adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami disintegrasi kondisi ego sebagai senjata untuk menjauhkan pengalaman buruknya dari dirinya, sehingga dia dapat menjalani hidup sehari-hari sebagai orang lain yang seolah tidak pernah mengalami pengalaman traumatik tersebut. Setiap pribadi menguasai tubuh si penderita secara bergantian, dan mengakibatkan setiap “pribadi” mengalami amnesia pada saat pribadi-pribadi yang lain sedang aktif. Sedangkan sumber yang lain mengatakan bahwa kepribadiaan ganda adalah salah satu bentuk keterbelakangan psikologis akibat trauma masa kecil. Is that's true???
So, jika kepribadian ganda termasuk keterbelakangan mental, bisa jadi ini fakta yang sangat menyakitkan bagi orang - orang yang selama ini "mengindap kepribadian ganda". Namun, sungguh sangat ironis kadang - kadang kepribadian ganda malah timbul secara tidak sengaja dan kadang juga sengaja. Apakah ini membuktikan bahwa kepribadian ganda termasuk keterbelakangan mental yang sengaja terbentuk akibat manusia yang suka "curhat kepada diri sendiri"??
Jika anda termasuk orang yang suka curhat kepada diri sendiri dan seolah - olah selalu mampu menyelesaikan persoalan pribadi sendirian tanpa merasa butuh orang lain, maka anda termasuk orang berkepribadian ganda. that's mean.............keterbelakangan mental !!.
Anda tidak setuju?!
Senin, 05 Juli 2010
Lanjutan...Pelajaran Hikmah dari Sebuah Tim Sepakbola
Menonton Sepakbola bagi saya adalah pelajaran di samping melihat pola permainan dan kombinasi strategi yang di tampilkan. Sebut saja salah satu Tim Negara yang saya sukai adalah Jerman, bagi saya tim jerman adalah tim yang cukup solid sekalipun para pemainnya bisa dikatakan banyak yang awam atau tak sebanding terkenalnya dengan tim Brazil,Argentina, Spanyol, Prancis dan negara terkenal lainnya...
Ada tapinya nih...
Jerman tidak mengoleksi pemain-pemain yang hebat dan terkenal namun yang saya suka adalah dengan kekompakan dan semangat dari tim ini...Apresiasi saya tunjukan untuk tim jerman atas terbangunnya kerjasama dan Semangatnya di lapangan....
Kita bisa lihat bagaimana para pemain ini telah menunjukkan ketenangannya di lapangan, tanpa emosi atau panik disaat mereka harus terima serangan dari tim lawan dan yang paling mengesankan adalah dikala tim ini menyerang, para pemain cukup sabar untuk bisa menembus pertahanan lawan, tidak memaksakan untuk bisa mengeksekusi ke lawan....
Selebrasi tim ini untuk kemenangannnya adalah sangat biasa-biasa saja, mungkin mereka sadar bahwa kompetisi ini belum berakhir dan harus masih melanjutkan permainan ini hingga penghabisan......
Sekali lagi bahwa Sebenarnya Kita bisa mengambil pelajaran mahal dari sebuah tim sepakbola agar dapat kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari,
Jika anda adalah Pimpinan, ketahuilah bahwa tanpa adanya bawahan, anda bukanlah seorang pimpinan, untuk itu hargailah bawahan anda disaat bekerja dengan hasil apapun, jika hasil kerja bawahan anda tidak sesuai harapan, bimbinglah dan tersenyumlah dengan harapan agar dikemudian hari bawahan anda dapat bekerja sesuai dengan yang anda inginkan dan berilah semua pengalaman anda terhadap bawahan anda karena pasti nanti anda akan menjadi pimpinan yang sangat di hormati dan dihargai karena anda telah mmampu mengajak bawahan anda dalam bekerja yang lebih berkualitas. Ingatlah Bahwa Anda yang sebagai Pimpinan dengan bawahan anda adalah TEAMWORK.
Ingat...Kesuksesan Pimpinan dalam bekerja karena bawahannya,
Ada tapinya nih...
Jerman tidak mengoleksi pemain-pemain yang hebat dan terkenal namun yang saya suka adalah dengan kekompakan dan semangat dari tim ini...Apresiasi saya tunjukan untuk tim jerman atas terbangunnya kerjasama dan Semangatnya di lapangan....
Kita bisa lihat bagaimana para pemain ini telah menunjukkan ketenangannya di lapangan, tanpa emosi atau panik disaat mereka harus terima serangan dari tim lawan dan yang paling mengesankan adalah dikala tim ini menyerang, para pemain cukup sabar untuk bisa menembus pertahanan lawan, tidak memaksakan untuk bisa mengeksekusi ke lawan....
Selebrasi tim ini untuk kemenangannnya adalah sangat biasa-biasa saja, mungkin mereka sadar bahwa kompetisi ini belum berakhir dan harus masih melanjutkan permainan ini hingga penghabisan......
Sekali lagi bahwa Sebenarnya Kita bisa mengambil pelajaran mahal dari sebuah tim sepakbola agar dapat kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari,
Jika anda adalah Pimpinan, ketahuilah bahwa tanpa adanya bawahan, anda bukanlah seorang pimpinan, untuk itu hargailah bawahan anda disaat bekerja dengan hasil apapun, jika hasil kerja bawahan anda tidak sesuai harapan, bimbinglah dan tersenyumlah dengan harapan agar dikemudian hari bawahan anda dapat bekerja sesuai dengan yang anda inginkan dan berilah semua pengalaman anda terhadap bawahan anda karena pasti nanti anda akan menjadi pimpinan yang sangat di hormati dan dihargai karena anda telah mmampu mengajak bawahan anda dalam bekerja yang lebih berkualitas. Ingatlah Bahwa Anda yang sebagai Pimpinan dengan bawahan anda adalah TEAMWORK.
Ingat...Kesuksesan Pimpinan dalam bekerja karena bawahannya,
Minggu, 04 Juli 2010
Bekerjalah Dengan Hati
(managementfile – HR) - Saat masih kanak-kanak, nasehat kaum orang tua mengajarkan agar kita kelak sukses maka kita harus kerja keras (hardwork). Pernyataan berbeda diungkapkan oleh para pakar, yaitu kerja keras saja (hardwork) saja tidak cukup tapi juga dibutuhkan heartwork (bekerja dengan hati) untuk mencapai keberhasilan.
Saat memutuskan untuk bekerja, kita harus memiliki modal seperti kita menginvestasikan ’harta’ kita agar suatu hari kelak dapat kita petik hasilnya. Modal itu adalah pikiran (non fisik), tenaga (fisik) dan hati (non fisik). Antara pikiran dan tenaga, ada perbandingan ang berbeda untuk setiap pekerjaan. Namun untuk hati, modal ini diperlukan dalam setiap pekerjaan. Anda mungkin pernah dengar sebelumnya bahwa saat kita bekerja dengan sepenuh hati kita, maka seberat apapun pekerjaan itu kita tidak terlalu berat merasakannya. Ini salah satu bentuk kecerdasan membuat strategi sehingga pekerjaan sukses tercapai secara optimal.
Anda tahu orang-orang Jepang memiliki komitmen yaitu bekerja dengan sepenuh hati. Hal ini ditunjukkan dengan tata bahasa dan nada bicara yang halus dan ramah serta yang tidak ketinggalan adalah senyum yang menyiratkan ketulusan mereka dalam menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawabnya. Mereka tahu bagaimana cara memberikan pelayanan yang terbaik bagi seorang pelanggan bahkan mereka juga tahu bagaimana harus menegur tanpa harus bersikap kasar dan mempermalukan orang tersebut. Mereka adalah orang yang senantiasa berusaha belajar untuk mencintai profesi mereka sehingga apapun pekerjaan yang mereka tekuni semuanya mereka lakukan dengan keikhlasan.
Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh banyak orang yang bekerja di Amerika. Mereka terbiasa bekerja dalam gerak cepat tapi seringkali disertai dengan sikap keangkuhan dan tidak dibarengi dengan senyum yang menandakan satu komitmen akan melayani dengan sepenuh hati. Motto melayani dengan senyum masih belum menjadi satu habit. Memang mereka semua adalah pekerja keras tapi bekerja tanpa hati, tanpa merasa perlu menjalin relationship dengan customer sehingga merasa tidak perlu ada senyum dan perhatian, selain berusaha untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.
Sekarang menurut Anda, bagaimana dengan orang Indonesia ? masih banyak yang bekerja tanpa disertai dengan keiklasan. Kita masih perlu belajar dari sikap orang jepang yang notabene kita tahu mereka tinggal di negara maju dan sukses karena mereka tidak pernah meninggalkan budaya bagaimana melayani dengan hati yang tulus.
Berikut sedikit cuplikan cerita yang mungkin pernah kita dengar sebelumnya :
Seorang pembantu rumah tangga yang berwajah lugu, sederhana, dan tutur kata yang simpatik. Sang majikan terkesan dan percaya, tidak lama sang pembantu diterima menjadi pembantu rumah tangga. Tiga bulan kemudian, sang pembantu kabur dengan sudah menguras semua harta majikannya. Ternyata pembantu ini adalah anggota sindikat perampok yang beraksi dengan modus berpura-pura menjadi pembantu. Lebih tepatnya dia layak dijuluki berwajah tulus, namun berhati bulus.
Seorang caleg mengamuk karena gagal dalam pemilihan wakil rakyat karena merasa sudah banyak ’biaya’ yang dia harus keluarkan. Modal yang salah ditempatkan dan sikap hati yang salah, bekerja dengan penuh keikhlasan dan sepenuh hati. Juga seorang caleg lainnya yang mau memalsukan identitasnya dengan berbagai macam gelar demi lolos jadi caleg semakin membuat kita melihat bahwa menjadi seorang wakil rakyat bukan semata menerima materi tapi juga mau mencintai pekerjaan untuk melayani rakyat dengan sepenuh hati.
Suatu malam ada seorang pria tua istrinya memasuki sebuah lobi hotel kecil di Philadelphia.
"Semua hotel besar di kota ini telah terisi, bisakah kau memberi kami satu kamar saja?" kata pria tua itu. Pegawai hotel menjawab "Semua kamar telah penuh karena ada 3 event besar yang bersamaan diadakan di kota ini, tapi saya tidak bisa menyuruh pasangan yang baik seperti Anda untuk berhujan2 di luar sana pada pukul satu dini hari seperti ini, Bersediakah anda berdua tidur di kamar saya?. "Keesokan harinya pada saat membayar tagihan, pria tua itu berkata pada si pegawai hotel "Kamulah orang yang seharusnya menjadi bos sebuah hotel terbaik di USA, karena kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani, mungkin suatu hari saya membangunkan sebuah hotel untukmu". Pegawai hotel itu hanya tersenyum lebar melupakan kata2 pria tua itu, karena dia pikir dirinya hanya seorang pegawai biasa. Kira2 dua tahun kemudian, ia menerima surat yang berisi tiket ke New York permintaan agar ia menjadi tamu pasangan tua tsb. Setelah berada di New York, pria tua mengajak si pegawai hotel itu ke sudut jalan antara Fifth Avenue Thirty-Fourth Street, dimana ia menunjuk sebuah bangunan baru yg luar biasa megah dan mengatakan "Itulah hotel yang saya bangun untuk kamu kelola". Pegawai hotel itu adalah George Charles Boldt, yang menerima tawaran William Waldorf Astor, si pria tua itu, menjadi pimpinan dari hotel Waldorf-Astoria, yg menjadi hotel terbaik di dunia.
Pada akhirnya, sikap kita dalam bekerja sangat menentukan keberhasilan dan kesuksesan kita. Jika hanya sekedar mengejar materi, maka karier/hasil yang kita peroleh biasa2 saja atau bahkan bisa gagal sama sekali pada saat kita salah jalan. Kita sudah mendengar bahwa jika kita mau bekerja dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas mau melayani orang lain. Dengan pekerjaan yang kita miliki, maka kita bisa menjadi berkat buat orang lain, bukankah hal ini menyenangkan ?
Saat memutuskan untuk bekerja, kita harus memiliki modal seperti kita menginvestasikan ’harta’ kita agar suatu hari kelak dapat kita petik hasilnya. Modal itu adalah pikiran (non fisik), tenaga (fisik) dan hati (non fisik). Antara pikiran dan tenaga, ada perbandingan ang berbeda untuk setiap pekerjaan. Namun untuk hati, modal ini diperlukan dalam setiap pekerjaan. Anda mungkin pernah dengar sebelumnya bahwa saat kita bekerja dengan sepenuh hati kita, maka seberat apapun pekerjaan itu kita tidak terlalu berat merasakannya. Ini salah satu bentuk kecerdasan membuat strategi sehingga pekerjaan sukses tercapai secara optimal.
Anda tahu orang-orang Jepang memiliki komitmen yaitu bekerja dengan sepenuh hati. Hal ini ditunjukkan dengan tata bahasa dan nada bicara yang halus dan ramah serta yang tidak ketinggalan adalah senyum yang menyiratkan ketulusan mereka dalam menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawabnya. Mereka tahu bagaimana cara memberikan pelayanan yang terbaik bagi seorang pelanggan bahkan mereka juga tahu bagaimana harus menegur tanpa harus bersikap kasar dan mempermalukan orang tersebut. Mereka adalah orang yang senantiasa berusaha belajar untuk mencintai profesi mereka sehingga apapun pekerjaan yang mereka tekuni semuanya mereka lakukan dengan keikhlasan.
Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh banyak orang yang bekerja di Amerika. Mereka terbiasa bekerja dalam gerak cepat tapi seringkali disertai dengan sikap keangkuhan dan tidak dibarengi dengan senyum yang menandakan satu komitmen akan melayani dengan sepenuh hati. Motto melayani dengan senyum masih belum menjadi satu habit. Memang mereka semua adalah pekerja keras tapi bekerja tanpa hati, tanpa merasa perlu menjalin relationship dengan customer sehingga merasa tidak perlu ada senyum dan perhatian, selain berusaha untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.
Sekarang menurut Anda, bagaimana dengan orang Indonesia ? masih banyak yang bekerja tanpa disertai dengan keiklasan. Kita masih perlu belajar dari sikap orang jepang yang notabene kita tahu mereka tinggal di negara maju dan sukses karena mereka tidak pernah meninggalkan budaya bagaimana melayani dengan hati yang tulus.
Berikut sedikit cuplikan cerita yang mungkin pernah kita dengar sebelumnya :
Seorang pembantu rumah tangga yang berwajah lugu, sederhana, dan tutur kata yang simpatik. Sang majikan terkesan dan percaya, tidak lama sang pembantu diterima menjadi pembantu rumah tangga. Tiga bulan kemudian, sang pembantu kabur dengan sudah menguras semua harta majikannya. Ternyata pembantu ini adalah anggota sindikat perampok yang beraksi dengan modus berpura-pura menjadi pembantu. Lebih tepatnya dia layak dijuluki berwajah tulus, namun berhati bulus.
Seorang caleg mengamuk karena gagal dalam pemilihan wakil rakyat karena merasa sudah banyak ’biaya’ yang dia harus keluarkan. Modal yang salah ditempatkan dan sikap hati yang salah, bekerja dengan penuh keikhlasan dan sepenuh hati. Juga seorang caleg lainnya yang mau memalsukan identitasnya dengan berbagai macam gelar demi lolos jadi caleg semakin membuat kita melihat bahwa menjadi seorang wakil rakyat bukan semata menerima materi tapi juga mau mencintai pekerjaan untuk melayani rakyat dengan sepenuh hati.
Suatu malam ada seorang pria tua istrinya memasuki sebuah lobi hotel kecil di Philadelphia.
"Semua hotel besar di kota ini telah terisi, bisakah kau memberi kami satu kamar saja?" kata pria tua itu. Pegawai hotel menjawab "Semua kamar telah penuh karena ada 3 event besar yang bersamaan diadakan di kota ini, tapi saya tidak bisa menyuruh pasangan yang baik seperti Anda untuk berhujan2 di luar sana pada pukul satu dini hari seperti ini, Bersediakah anda berdua tidur di kamar saya?. "Keesokan harinya pada saat membayar tagihan, pria tua itu berkata pada si pegawai hotel "Kamulah orang yang seharusnya menjadi bos sebuah hotel terbaik di USA, karena kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani, mungkin suatu hari saya membangunkan sebuah hotel untukmu". Pegawai hotel itu hanya tersenyum lebar melupakan kata2 pria tua itu, karena dia pikir dirinya hanya seorang pegawai biasa. Kira2 dua tahun kemudian, ia menerima surat yang berisi tiket ke New York permintaan agar ia menjadi tamu pasangan tua tsb. Setelah berada di New York, pria tua mengajak si pegawai hotel itu ke sudut jalan antara Fifth Avenue Thirty-Fourth Street, dimana ia menunjuk sebuah bangunan baru yg luar biasa megah dan mengatakan "Itulah hotel yang saya bangun untuk kamu kelola". Pegawai hotel itu adalah George Charles Boldt, yang menerima tawaran William Waldorf Astor, si pria tua itu, menjadi pimpinan dari hotel Waldorf-Astoria, yg menjadi hotel terbaik di dunia.
Pada akhirnya, sikap kita dalam bekerja sangat menentukan keberhasilan dan kesuksesan kita. Jika hanya sekedar mengejar materi, maka karier/hasil yang kita peroleh biasa2 saja atau bahkan bisa gagal sama sekali pada saat kita salah jalan. Kita sudah mendengar bahwa jika kita mau bekerja dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas mau melayani orang lain. Dengan pekerjaan yang kita miliki, maka kita bisa menjadi berkat buat orang lain, bukankah hal ini menyenangkan ?
Sabtu, 03 Juli 2010
Pelajaran Hikmah dari Sebuah Tim Sepakbola
"Bola itu Bundar...". Inilah adalah Petikan kalimat yang sering kita dengar di tengah-tengah lingkungan masyarakat kita, dan merupakan sebuah ungkapan tentang sepakbola yang sekarang ini ramai jadi hiburan masyarakat dunia mengingat saat ini dilaksanakannya Piala Dunia Sepakbola di Afrika Selatan.
Berbicara tentang mana yang akan menjadi juara piala dunia 2010 ini merupakan tanda tanya besar yang akan ditunggu jawabannya seusai perhelatan ini nanti.
Menurut Anda Siapa Yang Akan Jadi Juara?? (Kita tunggu hasilnya yach)..
Lantas Tim siapa yang akan jadi pemenang...??? Yaitu Tim yang Hebat....
Tim yang seperti apa??? Ya tim yang memiiki pemain dan pemain-pemain di tim itu tidak menunjukan
kehebatannya masing-masing. Skill Yang Hebat adalah pentinng untuk sebuah tim tapi yang terpenting pemain-pemainnya memiliki rasa dan keinginan kuat untuk menjadikan timnya Hebat.
Tim yang hebat seperti apa??? yaitu tim yang saat bermain memiliki kerjasama baik, tim yang pemainnya tidak haus pujian dari penonton, tidak ada pemain yang egois dan tim yang pemainnya memiliki mental tangguh dalam menjaga emosi dirinya.
Sebut saja negara Brazil, Agentina, Prancis, dan Inggris yang di favoritkan masyarakat sebagai salah satu tim yang akan menjadi juara di perhelatan piala dunia 2010....TERNYATA tim-tim ini harus gugur duluan...
Sebagian alasan masyarakat melihat bahwa tim dari negara ini memiliki pemain-pemain yang hebat dan masuk di klub-klub besar sepakbola.
Diatas kertas, harus diakui timm sepakbola negara-negara ini merupakan tim yang memiliki pemain berkualitas, dari skilll masing-masing pemainnya, dan mendapatkan pujian-pujian khusus dari masyarakat dunia karena kelihaiannya dalam bermain bola AKAN TETAPI, inilah sepakbola yang dimainkan oleh 11 orang pemain yakni bahwa hanya kerjasama yang baiklah yang dapat memenangkannya.
Banyak yang jadi penyebab tim-tim unggulan ini bisa gugur, kita lihat berbagai kemungkinan penyebabnya :
* Pemain yang telah menjadi terkenal karena skilllnya, merasa bahwa dia harus bermain hebat di lapangan
* Pemain hebat tadi merasa harus lebih baik diantara rekan-rekannya di lapangan saat bermain sehingga
terkesan egois.
* Rekan-rekannya di lapangan terlalu berharap pada rekannya yang telah menjadi terkenal untuk bisa memenangkan pertandingan.
* Kurangnya jiwa tim karena pemain yang terkenal tadi merasa bahwa kemenangan timnya karena dirinya yang telah terkenal/hebat
*Pelatih yang terkesan memiliki dan menunjukan perhatian lebih karena memiliki anak emasnya di tim tersebut sehingga pemain yang lain tidak merasa penting di mata pelatih
Yach mungkin itulah diatara penyebab dari berbagai sebab yang lain sehingga Timnya menjadi kalah oleh tim-tim yang bukan unggulan.
Bagaimana Dengan Sudut Pandang Anda??
Memiliki pemain hebat bukanlah jaminan sebagai pemenang, tapi tim yang hebat akan jadi pemenangnya.
Pelajaran yang dapat kita ambil dalam kehidupan sehari-hari tentang arti sebuah Tim Sejati baik dalam berumah tangga, dunia pekerjaan dan bergaul kita.
Kerjasama dan Tidak merasa yang Ter paling akan dapat menjadi hidup ini penuh bersahabat, damai dan Menjadi Pemenang
......Kita lanjutkan pembahasan ini pada bagian ke-dua. Karena eh karena saya gawe duu...
Berbicara tentang mana yang akan menjadi juara piala dunia 2010 ini merupakan tanda tanya besar yang akan ditunggu jawabannya seusai perhelatan ini nanti.
Menurut Anda Siapa Yang Akan Jadi Juara?? (Kita tunggu hasilnya yach)..
Lantas Tim siapa yang akan jadi pemenang...??? Yaitu Tim yang Hebat....
Tim yang seperti apa??? Ya tim yang memiiki pemain dan pemain-pemain di tim itu tidak menunjukan
kehebatannya masing-masing. Skill Yang Hebat adalah pentinng untuk sebuah tim tapi yang terpenting pemain-pemainnya memiliki rasa dan keinginan kuat untuk menjadikan timnya Hebat.
Tim yang hebat seperti apa??? yaitu tim yang saat bermain memiliki kerjasama baik, tim yang pemainnya tidak haus pujian dari penonton, tidak ada pemain yang egois dan tim yang pemainnya memiliki mental tangguh dalam menjaga emosi dirinya.
Sebut saja negara Brazil, Agentina, Prancis, dan Inggris yang di favoritkan masyarakat sebagai salah satu tim yang akan menjadi juara di perhelatan piala dunia 2010....TERNYATA tim-tim ini harus gugur duluan...
Sebagian alasan masyarakat melihat bahwa tim dari negara ini memiliki pemain-pemain yang hebat dan masuk di klub-klub besar sepakbola.
Diatas kertas, harus diakui timm sepakbola negara-negara ini merupakan tim yang memiliki pemain berkualitas, dari skilll masing-masing pemainnya, dan mendapatkan pujian-pujian khusus dari masyarakat dunia karena kelihaiannya dalam bermain bola AKAN TETAPI, inilah sepakbola yang dimainkan oleh 11 orang pemain yakni bahwa hanya kerjasama yang baiklah yang dapat memenangkannya.
Banyak yang jadi penyebab tim-tim unggulan ini bisa gugur, kita lihat berbagai kemungkinan penyebabnya :
* Pemain yang telah menjadi terkenal karena skilllnya, merasa bahwa dia harus bermain hebat di lapangan
* Pemain hebat tadi merasa harus lebih baik diantara rekan-rekannya di lapangan saat bermain sehingga
terkesan egois.
* Rekan-rekannya di lapangan terlalu berharap pada rekannya yang telah menjadi terkenal untuk bisa memenangkan pertandingan.
* Kurangnya jiwa tim karena pemain yang terkenal tadi merasa bahwa kemenangan timnya karena dirinya yang telah terkenal/hebat
*Pelatih yang terkesan memiliki dan menunjukan perhatian lebih karena memiliki anak emasnya di tim tersebut sehingga pemain yang lain tidak merasa penting di mata pelatih
Yach mungkin itulah diatara penyebab dari berbagai sebab yang lain sehingga Timnya menjadi kalah oleh tim-tim yang bukan unggulan.
Bagaimana Dengan Sudut Pandang Anda??
Memiliki pemain hebat bukanlah jaminan sebagai pemenang, tapi tim yang hebat akan jadi pemenangnya.
Pelajaran yang dapat kita ambil dalam kehidupan sehari-hari tentang arti sebuah Tim Sejati baik dalam berumah tangga, dunia pekerjaan dan bergaul kita.
Kerjasama dan Tidak merasa yang Ter paling akan dapat menjadi hidup ini penuh bersahabat, damai dan Menjadi Pemenang
......Kita lanjutkan pembahasan ini pada bagian ke-dua. Karena eh karena saya gawe duu...
Langganan:
Postingan (Atom)





