RM.Torani-Balikpapan

Kamis, 22 Juli 2010

Mario Teguh Berkata.....

 
Pemarah Dan Bersabar
Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar. Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar, karena dia hanya tidak bisa marah. Sedangkan seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar. Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu sulit, Anda sangat tepat, karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.

 Kesenangan
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan..

 Hidup Sederhana
Kita harus berusaha agar dapat hidup sederhana , namun dampaknya tidak sederhana.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Mungkin lelaki merajai dunia, tapi tidak ada lelaki yang bukan anak dari seorang Ibu.
Seorang petarung sakti mandra guna, tak mempan pisau dan peluru, otot kawat tulang besi dan kulit seng, ditakuti oleh jin dan manusia, akan menangis meratap karena cintanya ditolak wanita kecil yang diharapkannya menjadi Ibu dari anak-...anaknya.
"IBU ADALAH PEMIMPIN KEMANUSIAAN YANG SESUNGGUHNYA...."

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

APA PUN MUNGKIN DENGAN SEORANG GURU YANG BAIK.

Iya ya?

SEANDAINYA SAJA DULU SAYA CEPAT IKHLAS
...menerima nasehat dari orang tua, guru, atau siapa pun yang membaikkan diri dan kehidupan saya …,
mungkin saya akan hidup dalam DUA KALI LIPAT KUALITAS HIDUP saya sekarang.

Mengapa ya? Saya dulu khoq pesimis dan suka mengkritik nasehat baik?

Padahal yang diuntungkan adalah saya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 

PENGERDILAN JIWA adalah pekerjaan dan pergaulan yang menjadikan kita stress, marah tapi tak berdaya, melukai keluarga, pesimis dan sinis terhadap kebaikan.
PEKERJAAN adalah PEMBAIK KEHIDUPAN, bagi perusahaan, bagi pelanggan, dan bagi kita dan keluarga....
RAHMAT TUHAN TERSEBAR DI MUKA BUMI.
Jangan berharap rezeki dari tempat yang tidak amanah.
Upayakanlah yang lebih baik.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebetulnya, DIA YANG MENYAKITI HATI ORANG YANG MENGASIHINYA ITU, apakah yang diharapkannya?
Mengapakah dia memilih bekerja keras untuk menyenangkan orang lain yang hanya menginginkan keuntungan darinya, dan menelantarkan jiwa-jiwa yang dititipkan oleh Tuhan untuk dikasihinya?
KELUARGA ADALAH SURGA KECIL KITA DI DUNIA....
Tidak ada orang yang bisa damai hatinya, selama dia tidak membahagiakan keluarganya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sahabat saya yang dikasihi Tuhan,
Anda tidak akan dirugikan terlalu banyak oleh kemarahan Anda, tetapi Anda pasti akan sangat dirugikan oleh dampak dari kemarahan yang tidak Anda kendalikan.
Kemarahan bisa dan wajar terjadi pada diri kita, dan tidaklah berbahaya bagi siapa pun, sampai kita menggunakannya untuk merendahka...n diri sendiri dan melukai orang lain.
Bersabarlah. SABAR ITU MEMULIAKAN.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KESULITAN SEBESAR APA PUN AKAN TERASA WAJAR bagi jiwa yang tetap melebihkan syukur daripada mengeluh.
Karena, bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur, tetapi bersyukurlah yang menjadikan kita berbahagia.
Jiwa yang malas, tetap tersesat walau pun sudah sampai.
...Jiwa yang tamak, tetap mengeluh di atas kekayaan.
Jiwa yang bersyukur, akan berbahagia bahkan di atas masalah.
SYUKUR ITU AJAIB.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Adik and anak saya yang besar impian hatinya,
Sebuah negara akan menjadi kuat dan tumbuh dengan sehat, jika dihuni oleh LEBIH BANYAK WIRAUSAHAWAN, daripada karyawan.
Mulailah sebagai karyawan yang baik. Pelajarilah cara memimpin dan mengelola bisnis dari orang-orang berhasil. Bergaullah seluas mungkin....
Setelah itu, MENJADI PEMILIK DARI BISNIS ANDA SENDIRI, menjadi sesuatu yang logis dan alamiah. Amien

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sahabat saya yang hatinya lembut,
Menjelang nafas-nafas terakhir hidup kita, kita TIDAK AKAN MENYESALI kurangnya uang, rendahnya pangkat, atau kurangnya popularitas dan penghargaan. Tetapi kita PASTI menyesali kurangnya kasih sayang kita kepada orang tua, suami, istri, dan anak-anak.
Segeralah pulang. Kasihan, jangan bia...rkan mereka hidup dan menua tanpa kehadiran Anda.
Love them with all your heart.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KEMISKINAN ADALAH PENDIDIK TERBAIK.
Keadaan apakah yang lebih mendidikkan penghematan, memaksakan kreatifitas, meramahkan pendekatan, mengkhusukkan doa, menyungguhkan upaya, dan yang mendalamkan kesyukuran?
Kemiskinan yang disyukuri sebagai pelajaran, diikhlaskan sebagai pensahaja diri, dan digunakan sebagai pengutuh kes...ungguhan kerja, AKAN MENJADIKAN KITA PRIBADI YANG ANGGUN DALAM KEKAYAAN. Amien

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Rabu, 21 Juli 2010

Puncak Keikhlasan

Kesempatan untuk bersenang-senang sangatlah terbatas dalam hidup. Ketika ia tidak memanfaatkannya, maka ia telah melewatkan satu kesempatan berhaga dalam hidupnya. Hanya saja, di antara kesempatan tersebut ada yang merusak kehidupan manusia, terlebih lagi bagi masa depannya.
Orang yang berambisi untuk meraih semua kesempatan untuk bersenang-senang, tanpa memikirkan dampak yanng ditimbulkannya, berarti dia telah menjadi musuh bagi dirinya sendiri, bagi masa depannya dan tentu saja bagi hubungan kemannusiaannya.
Sebaliknya, sering kali seseorang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersenang-senang karena beberapa sebab  tertentu, diantaranya : karena ingin selalu menyenangkan orang lain, menghindarkan orang lain dari kesulitan hidup, menjaga perasaan orang lain atau menciptakan kondisi nyaman bagi orang lain.
Namun sayangnya,, sikap seperti ini kadangkala tidak mendapat sambutan positif,, karena nampak mengganggu dan seakan-akan menjadi penghalang bagi apa yang diharapkan dan disukai orang. Meskipun demikian, lamban laun sikap seperti itu akan dianggap sebagai satu sikap yang luhur, atau setidaknya dianggap sebagai ungkapan paling kongkret dari rasa cinta, keikhlasan,, dan kepedulian. Terutama ketika nilai-nilai terpuji semakin menghilang dari kehidupan ini yang telah didominasi oleh kecenderungan pragmatisme dan sikap takut untuk menasihati, membimbing, dan meluruskan mereka yang berbuat salah.
Sesungguhnya orang yang ikhlas padamu adalah dia yang mencegah dirimu dari keterpurukan atau tenggelam dalam kegelapan hidup. Dialah orang yang membuat dirimu tidak dapat  bersenang-senang pada hari ini, demi sesuatu yang membuatmu mulia pada esok hari.
Banyak sekali orang berakal yang justru membiarkan orang-orang yang mengikuti nafsu mereka sendiri, Dan sedikit saja di antara orang-orang berakal ini yang mau menghalag-halangi mereka, sebagai unngkapan sikap peduli, kasih sayang dan ketulusan mereka.
Setiap orang yang memiliki prinsip dalam hidup ini, akan berjuang tanpa henti membela nilai-nilai yang mereka yakini. Mereka tidak peduli dengan kemarahan sahabat dekat pada hari ini, karena mereka percaya bahwa suatu saat nanti sahabat dekat itu akan mmelihat kebenaran yang sesungguhnya. Sahabat dekat itu, suatu saat, justru akan menemukan kebenaran prinsip mereka, kejujuran mereka dan ketulusan hati mereka.

Sabtu, 17 Juli 2010

Kualitas Pribadi Menuju Hidup Berkah

1. Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang.
Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.
Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura,
mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak".
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular.
Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah Hati
Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan.
Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati.
Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.
Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.
Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya.
Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan.
Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat,
rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap Positif
Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif,
bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun.
Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain,
lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi,
lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria,
maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati.
Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup,
tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan.
Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri.
Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh.
Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan,
dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.
Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun.
Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Kepercayaan Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya,
menghargai dirinya dan menghargai orang lain.
Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru.
Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan.
Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar,
tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil.
Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar.
Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan.
Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empati
Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan.
Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.
Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak,
tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri.
Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Selasa, 13 Juli 2010

Tips Segarkan Hati Setelah Disakiti Orang Lain...


Allah taala telah memberikan kebaikan di setiap kondisi yang dialami oleh para hamba-Nya yang beriman, sehingga mereka senantiasa berada dalam rengkuhan nikmat Allah taala.
Mereka mengalami segala kejadian yang menyenangkan dan menyedihkan, namun segala takdir yang ditetapkan Allah bagi mereka merupakan barang perniagaan yang memberikan untung yang teramat besar.
Hal ini ditunjukkan dalam sebuah sabda yang diucapkan oleh pemimpin dan suri tauladan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya."[1]
Hadits ini mencakup seluruh takdir-Nya yang ditetapkan bagi para hamba-Nya yang beriman. Dan segala takdir itu akan bernilai kebaikan, apabila sang hamba bersabar terhadap takdir Allah yang tidak menyenangkan dan bersyukur atas takdir Allah yang disukainya.
Bahkan, hal ini turut tercakup ke dalam kategori keimanan sebagaimana firman Allah taala,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (٥)

"Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur." (QS. Ibrahim: 5).

Apabila seorang hamba memperhatikan seluruh ajaran agama ini, maka dia akan mengetahui bahwa segenap ajaran agama berpulang pada kedua hal tadi, yaitu kesabaran dan rasa syukur. Hal itu dikarenakan kesabaran terbagi menjadi tiga jenis sebagaimana berikut[2].
Pertama: Sabar dalam melakukan ketaatan sampai seorang melaksanakannya. Hal ini dikarenakan seorang hamba hampir dapat dipastikan tidak dapat melakukan segala perkara yang diperintahkan kepadanya kecuali setelah bersabar, berusaha keras untuk bersabar dan berjihad melawan segenap musuh, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Kesabaran jenis inilah yang mempengaruhi penunaian seorang hamba terhadap segala perkara yang diwajibkan dan dianjurkan kepada dirinya.
Kedua: Kesabaran terhadap segala perkara yang terlarang sehingga dirinya tidak mengerjakan berbagai larangan tersebut. Sesungguhnya nafsu, tipu daya setan, dan teman sejawat yang buruk akan senantiasa memerintahkan dan menyeret seseorang untuk berbuat kemaksiatan. Oleh karenanya, kekuatan kesabaran jenis ini mempengaruhi tindakan seorang hamba dalam meninggalkan segenap kemaksiatan. Sebagian ulama salaf[3] mengatakan,

أَعْمَالُ الْبِرِّ يَفْعَلُهَا الْبَرُّ وَ الْفَاجِرُ, وَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي إِلاَّ صِدِّيْقٌ

"Setiap orang yang baik maupun yang fajir (pelaku kemaksiatan) turut melakukan kebaikan. Namun hanya orang yang bertitel shiddiq yang mampu meninggalkan seluruh perkara maksiat."

Ketiga: Kesabaran terhadap musibah yang menimpanya. Musibah ini terbagi menjadi dua,
Jenis pertama: Jenis musibah yang tidak dipengaruhi oleh turut campur tangan makhluk seperti penyakit dan musibah lain yang praktis tidak turut dipengaruhi oleh campur tangan manusia. Seorang hamba mudah bersabar dalam menghadapi musibah jenis ini.
Hal itu dikarenakan seorang hamba mengakui bahwasanya musibah jenis ini termasuk ke dalam takdir Allah yang tidak dapat ditentang olehnya, (sehingga) manusia tidak mampu turut campur dalam permasalahan ini. (Dalam hal ini), sang hamba hanya mampu bersabar, baik itu terpaksa maupun sukarela.
Apabila Allah membukakan pintu untuk merenungi berbagai faedah, kenikmatan dan kelembutan Allah yang diperolehnya dari musibah tersebut, maka dirinya pun berpindah dari derajat bersabar atas musibah yang menimpanya menuju derajat bersyukur dan ridla atas musibah tersebut. Dengan seketika, musibah tadi berubah menjadi nikmat yang dirasakannya, sehingga lisan dan hatinya senantiasa berkata,

رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Wahai Rabb-ku, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu serta memperbaiki segala peribadatanku kepada-Mu."[4]

Kesabaran jenis ini bergantung kepada kekuatan cinta seorang hamba kepada Allah taala, (sehingga meskipun hamba tertimpa musibah, dia justru dapat bersabar karena kekuatan cinta-Nya kepada Allah taala). Hal ini (kesabaran seorang terhadap perbuatan yang tidak menyenangkan dari seorang yang dicintainya-pent) dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana perkataan sebagian penyair[5] yang memanggil sang kekasih yang telah menyakitinya. Dia mengatakan,
لَئِنْ سَاءَنِي أَنْ نِلْتَنِي بِمَسَاءَةٍ
لَقَدْ سَرَّنِي أَنِّي خَطَرْتُ بِبَالِكَ
Meskipun (sang kekasih) telah menyakitiku
Namun kenangan di Balika (bersama kekasih) yang terlintas di benak, sungguh telah menyenangkan hatiku
Jenis keempat [kedua],[6] adalah musibah berupa tindakan manusia yang menganggu harta, kehormatan dan jiwa seorang.
Bersabar terhadap musibah jenis ini sangat sulit dilakukan, karena jiwa manusia akan senantiasa mengingat pihak yang telah menyakitinya. Begitupula jiwa (cenderung) enggan dikalahkan sehingga dia senantiasa berupaya untuk menuntut balas. Oleh karenanya, hanya para nabi dan orang-orang yang bertitel shiddiq saja yang mampu bersabar terhadap musibah jenis ini.
Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam apabila disakiti, beliau hanya mengucapkan,
يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ
"Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh beliau telah disakiti (oleh kaumnya) dengan (musibah) yang lebih daripada (ujian yang saya alami ini), namun beliau dapat bersabar."[7]
Salah sorang nabi pun (bersabar dan hanya) berkata ketika dipukul oleh kaumnya,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Ya Allah ampunilah kaumku, karena sungguh mereka tidak mengetahui."[8]
Telah diriwayatkan dari nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah mengalami ujian yang dialami oleh nabi tadi dan beliau mengucapkan perkataan yang serupa.[9]
(Dengan demikian), ucapan doa tersebut mengumpulkan tiga perkara, yaitu pemaafan (dari pihak yang disakiti) terhadap tindakan mereka, permintaan ampun kepada Allah untuk mereka dan pengajuan dispensasi (kepada Allah) dikarenakan ketidaktahuan mereka.
(Apabila seorang melakukannya), maka kesabaran jenis ini akan menghasilkan pertolongan, petunjuk, kebahagiaan, keamanan dan kekuatan serta mempertebal rasa cinta Allah dan manusia terhadap dirinya juga menambah keilmuan orang tersebut.
Oleh karena itu, Allah taala berfirman,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami." (QS. As Sajdah: 24).

Sehingga, kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh dengan kesabaran dan keyakinan (keimanan)[10]. Apabila kekuatan keyakinan dan keimanan mengiringi kesabaran ini, maka seorang hamba akan menaiki berbagai tingkatan kebahagiaan dengan karunia Alah taala. Dan itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Oleh karenanya Allah berfirman,
ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar." (QS. Fushshilaat: 34-35).

Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu seorang hamba untuk dapat melaksanakan kesabaran jenis kedua (yaitu bersabar ketika disakiti orang lain, ed). [Di antaranya adalah sebagai berikut:]
Pertama, hendaknya dia mengakui bahwa Allah taala adalah Zat yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam dan keinginannya. Maka segala sesuatu yang dikehendaki Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satupun benda meski seberat dzarrah (semut kecil, ed) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah alat. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu dan janganlah anda melihat tindakannya terhadapmu. (Apabila anda melakukan hal itu), maka anda akan terbebas dari segala kedongkolan dan kegelisahan.
Kedua, hendaknya seorang mengakui akan segala dosa yang telah diperbuatnya dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah dia perbuat sebagaimana firman Allah taala,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy Syuura: 30).

Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala musibah yang menimpanya dikarenakan dosa-dosanya yang telah lalu, maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut. Dia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya.
(Oleh karena itu), apabila anda melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang dia alami justru adalah musibah yang hakiki. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat, beristighfar dan mengucapkan, "Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat." Maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi kenikmatan.
Ali bin Abi Thalib radliallahu anhu pernah mengatakan sebuah kalimat yang indah,

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدٌ إِلاَّ رَبَّهُ لاَ يَخَافَنَّ عَبْدٌ إلَّا ذَنْبَهُ

"Hendaknya seorang hamba hanya berharap kepada Rabb-nya dan hendaknya dia takut terhadap akibat yang akan diterima dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya."[1]

Dan terdapat sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan selainnya, beliau mengatakan,

مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلَّا بِذَنْبِ وَلَا رُفِعَ إلَّا بِتَوْبَةِ

"Musibah turun disebabkan dosa dan diangkat dengan sebab taubat."
Ketiga, hendaknya seorang mengetahui pahala yang disediakan oleh Allah taala bagi orang yang memaafkan dan bersabar (terhadap tindakan orang lain yang menyakitinya). Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Asy Syuura: 40).

Ditinjau dari segi penunaian balasan, manusia terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu [1] golongan yang zalim karena melakukan pembalasan yang melampaui batas, [2] golongan yang moderat yang hanya membalas sesuai haknya dan [3] golongan yang muhsin (berbuat baik) karena memaafkan pihak yang menzalimi dan justru meniggalkan haknya untuk membalas. Allah taala menyebutkan ketiga golongan ini dalam ayat di atas, bagian pertama bagi mereka yang moderat, bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas).
(Hendaknya dia juga) mengetahui panggilan malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata,

أَلاَ لِيَقُمْ مَنْ وَجَبَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

"Perhatikanlah! Hendaknya berdiri orang-orang yang memperoleh balasan yang wajib ditunaikan oleh Allah!"[2]

(Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan), tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (senantiasa) memaafkan dan bersabar (terhadap gangguan orang lain kepada dirinya).
Apabila hal ini diiringi  dengan pengetahuan bahwa segala pahala tersebut akan hilang jika dirinya menuntut dan melakukan balas dendam, maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan (setiap pihak yang telah menzaliminya).
Keempat, hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dia memaafkan dan berbuat baik, maka hal itu akan menyebabkan hatinya selamat dari (berbagai kedengkian dan kebencian kepada saudaranya) serta hatinya akan terbebas dari keinginan untuk melakukan balas dendam dan berbuat jahat (kepada pihak yang menzaliminya). (Sehingga) dia memperoleh kenikmatan memaafkan yang justru akan menambah kelezatan dan manfaat yang berlipat-lipat, baik manfaat itu dirasakan sekarang atau nanti.
Manfaat di atas tentu tidak sebanding dengan "kenikmatan dan manfaat" yang dirasakannya ketika melakukan pembalasan. Oleh karenanya, (dengan perbuatan di atas), dia (dapat) tercakup dalam firman Allah taala,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134).

(Dengan melaksanakan perbuatan di atas), dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang kecurian satu dinar, namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. (Dengan demikian), dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi kegembiraan yang pernah dirasakannya.
Kelima, hendaknya dia mengetahui bahwa seorang yang melampiaskan dendam semata-mata untuk kepentingan nafsunya, maka hal itu hanya akan mewariskan kehinaan di dalam dirinya. Apabila dia memaafkan, maka Allah justru akan memberikan kemuliaan kepadanya. Keutamaan ini telah diberitakan oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui sabdanya,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

"Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf."[3]

(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata, namun mewariskan kehinaan batin. (Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam batin, namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin.
Keenam, -dan hal ini merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat-, yaitu hendaknya dia mengetahui bahwa setiap balasan itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. (Hendaknya dia menyadari) bahwa dirinya adalah seorang yang zalim lagi pendosa. Begitupula hendaknya dia mengetahui bahwa setiap orang yang memaafkan kesalahan manusia terhadap dirinya, maka Allah pun akan memaafkan dosa-dosanya. Dan orang yang memohonkan ampun setiap manusia yang berbuat salah kepada dirinya, maka Allah pun akan mengampuninya. Apabila dia mengetahui pemaafan dan perbuatan baik yang dilakukannya kepada berbagai pihak yang menzalimi merupakan sebab yang akan mendatangkan pahala bagi dirinya, maka tentulah (dia akan mudah) memaafkan dan berbuat kebajikan dalam rangka (menebus) dosa-dosanya. Manfaat ini tentu sangat mencukupi seorang yang berakal (agar tidak melampiaskan dendamnya).
Ketujuh, hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dirinya disibukkan dengan urusan pelampiasan dendam, maka waktunya akan terbuang sia-sia dan hatinya pun akan terpecah (tidak dapat berkonsentrasi untuk urusan yang lain-pent). Berbagai manfaat justru akan luput dari genggamannya. Dan kemungkinan hal ini lebih berbahaya daripada musibah yang ditimbulkan oleh berbagai pihak yang menzhaliminya. Apabila dia memaafkan, maka hati dan fisiknya akan merasa "fresh" untuk mencapai berbagai manfaat yang tentu lebih penting bagi dirinya daripada sekedar mengurusi perkara pelampiasan dendam.
Kedelapan, sesungguhnya pelampiasan dendam yang dilakukannya merupakan bentuk pembelaan diri yang dilandasi oleh keinginan melampiaskan hawa nafsu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi, padahal menyakiti beliau termasuk tindakan menyakiti Allah taala dan menyakiti beliau termasuk di antara perkara yang di dalamnya berlaku ketentuan ganti rugi.
Jiwa beliau adalah jiwa yang termulia, tersuci dan terbaik. Jiwa yang paling jauh dari berbagai akhlak yang tercela dan paling berhak terhadap berbagai akhlak yang terpuji. Meskipun demikian, beliau tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi (jiwanya) (terhadap berbagai pihak yang telah menyakitinya).
Maka bagaimana bisa salah seorang diantara kita melakukan pembalasan dan pembelaan untuk diri sendiri, padahal dia tahu kondisi jiwanya sendiri serta kejelekan dan aib yang terdapat di dalamnya? Bahkan, seorang yang arif tentu (menyadari bahwa) jiwanya tidaklah pantas untuk menuntut balas (karena aib dan kejelekan yang dimilikinya) dan (dia juga mengetahui bahwa jiwanya) tidaklah memiliki kadar kedudukan yang berarti sehingga patut untuk dibela.
Kesembilan, apabila seorang disakiti atas tindakan yang dia peruntukkan kepada Allah (ibadah-pent), atau dia disakiti karena melakukan ketaatan yang diperintahkan atau karena dia meninggalkan kemaksiatan yang terlarang, maka (pada kondisi demikian), dia wajib bersabar dan tidak boleh melakukan pembalasan. Hal ini dikarenakan dirinya telah disakiti (ketika melakukan ketaatan) di jalan Allah, sehingga balasannya menjadi tanggungan Allah.
Oleh karenanya, ketika para mujahid yang berjihad di jalan Allah kehilangan nyawa dan harta, mereka tidak memperoleh ganti rugi karena Allah telah membeli nyawa dan harta mereka.
Dengan demikian, ganti rugi menjadi tanggungan Allah, bukan di tangan makhluk. Barangsiapa yang menuntut ganti rugi kepada makhluk (yang telah menyakitinya), tentu dia tidak lagi memperoleh ganti rugi dari Allah. Sesungguhnya, seorang yang mengalami kerugian (karena disakiti) ketika beribadah di jalan Allah, maka Allah berkewajiban memberikan gantinya.
Apabila dia tersakiti akibat musibah yang menimpanya, maka hendaknya dia menyibukkan diri dengan mencela dirinya sendiri. Karena dengan demikian, dirinya tersibukkan (untuk mengoreksi diri dan itu lebih baik daripada) dia mencela berbagai pihak yang telah menyakitinya.
Apabila dia tersakiti karena harta, maka hendaknya dia berusaha menyabarkan jiwanya, karena mendapatkan harta tanpa dibarengi dengan kesabaran merupakan perkara yang lebih pahit daripada kesabaran itu sendiri.
Setiap orang yang tidak mampu bersabar terhadap panas terik di siang hari, terpaan hujan dan salju serta rintangan perjalanan dan gangguan perampok, maka tentu dia tidak usah berdagang.
Realita ini diketahui oleh manusia, bahwa setiap orang yang memang jujur (dan bersungguh-sungguh) dalam mencari sesuatu, maka dia akan dianugerahi kesabaran dalam mencari sesuatu itu sekadar kejujuran (dan kesungguhan) yang dimilikinya.
Kesepuluh, hendaknya dia mengetahui kebersamaan, kecintaan Allah dan ridla-Nya kepada dirinya apabila dia bersabar. Apabila Allah membersamai seorang, maka segala bentuk gangguan dan bahaya -yang tidak satupun makhluk yang mampu menolaknya- akan tertolak darinya. Allah taala berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

"Allah menyukai orang-orang yang bersabar." (QS. Ali Imran: 146).

Kesebelas, hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran merupakan sebagian daripada iman. Oleh karena itu, sebaiknya dia tidak mengganti sebagian iman tersebut dengan pelampiasan dendam. Apabila dia bersabar, maka dia telah memelihara dan menjaga keimanannya dari aib (kekurangan). Dan Allah-lah yang akan membela orang-orang yang beriman.
Kedua belas, hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran yang dia laksanakan merupakan hukuman dan pengekangan terhadap hawa nafsunya. Maka tatkala hawa nafsu terkalahkan, tentu nafsu tidak mampu memperbudak dan menawan dirinya serta menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai kebinasaan.
Tatkala dirinya tunduk dan mendengar hawa nafsu serta terkalahkan olehnya, maka hawa nafsu akan senantiasa mengiringinya hingga nafsu tersebut membinasakannya kecuali dia memperoleh rahmat dari Rabb-nya.
Kesabaran mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu berikut setan yang (menyusup masuk di dalam diri). Oleh karenanya, (ketika kesabaran dijalankan), maka kerajaan hati akan menang dan bala tentaranya akan kokoh dan menguat sehingga segenap musuh akan terusir.
Ketiga belas, hendaknya dia mengetahui bahwa tatkala dia bersabar , maka tentu Allah-lah yang menjadi penolongnya. Maka Allah adalah penolong bagi setiap orang yang bersabar dan memasrahkan setiap pihak yang menzaliminya kepada Allah.
Barangsiapa yang membela hawa nafsunya (dengan melakukan pembalasan), maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya sendiri sehingga dia pun menjadi penolongnya.
Jika demikian, apakah akan sama kondisi antara seorang yang ditolong Allah, sebaik-baik penolong dengan seorang yang ditolong oleh hawa nafsunya yang merupakan penolong yang paling lemah?
Keempat belas, kesabaran yang dilakukan oleh seorang akan melahirkan penghentian kezhaliman dan penyesalan pada diri musuh serta akan menimbulkan celaan manusia kepada pihak yang menzalimi. Dengan demikian, setelah menyakiti dirinya, pihak yang zhalim akan kembali dalam keadaan malu terhadap pihak yang telah dizaliminya. Demikian pula dia akan menyesali perbuatannya, bahkan bisa jadi pihak yang zalim akan berubah menjadi sahabat karib bagi pihak yang dizhalimi. Inilah makna firman Allah taala,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar." (QS. Fushshilaat: 34-35).

Kelima belas, terkadang pembalasan dendam malah menjadi sebab yang akan menambah kejahatan sang musuh terhadap dirinya. Hal ini juga justru akan memperkuat dorongan hawa nafsu serta menyibukkan pikiran untuk memikirkan berbagai bentuk pembalasan yang akan dilancarkan sebagaimana hal ini sering terjadi.
Apabila dirinya bersabar dan memaafkan pihak yang menzhaliminya, maka dia akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan di atas. Seorang yang berakal, tentu tidak akan memilih perkara yang lebih berbahaya.
Betapa banyak pembalasan dendam justru menimbulkan berbagai keburukan yang sulit untuk dibendung oleh pelakunya. Dan betapa banyak jiwa, harta dan kemuliaan yang tetap langgeng ketika pihak yang dizalimi menempuh jalan memaafkan.
Keenam belas, sesungguhnya seorang yang terbiasa membalas dendam dan tidak bersabar mesti akan terjerumus ke dalam kezaliman. Karena hawa nafsu tidak akan mampu melakukan pembalasan dendam dengan adil, baik ditinjau dari segi pengetahuan (maksudnya hawa nafsu tidak memiliki parameter yang pasti yang akan menunjukkan kepada dirinya bahwa pembalasan dendam yang dilakukannya telah sesuai dengan kezaliman yang menimpanya, pent-) dan kehendak (maksudnya ditinjau dari segi kehendak, hawa nafsu tentu akan melakukan pembalasan yang lebih, pent-).
Terkadang, hawa nafsu tidak mampu membatasi diri dalam melakukan pembalasan dendam sesuai dengan kadar yang dibenarkan, karena kemarahan (ketika melakukan pembalasan dendam)  akan berjalan bersama pemiliknya menuju batas yang tidak dapat ditentukan (melampaui batas, pent-). Sehingga dengan demikian, posisi dirinya yang semula menjadi pihak yang dizalimi, yang menunggu pertolongan dan kemuliaan, justru berubah menjadi pihak yang zalim, yang akan menerima kehancuran dan siksaan.
Ketujuh belas, kezaliman yang diderita akan menjadi sebab yang akan menghapuskan berbagai dosa atau mengangkat derajatnya. Oleh karena itu, apabila dia membalas dendam dan tidak bersabar, maka kezaliman tersebut tidak akan menghapuskan dosa dan tidakpula mengangkat derajatnya.
Kedelapan belas, kesabaran dan pemaafan yang dilakukannya merupakan pasukan terkuat yang akan membantunya dalam menghadapi sang musuh.
Sesungguhnya setiap orang yang bersabar dan memaafkan pihak yang telah menzaliminya, maka sikapnya tersebut akan melahirkan kehinaan pada diri sang musuh dan menimbulkan ketakutan terhadap dirinya dan manusia. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan tinggal diam terhadap kezaliman yang dilakukannya tersebut, meskipun pihak yang dizalimi mendiamkannya. Apabila pihak yang dizalimi membalas dendam, seluruh keutamaan itu akan terluput darinya.
Oleh karena itu, anda dapat menjumpai sebagian manusia, apabila dia menghina atau menyakiti pihak lain, dia akan menuntut penghalalan dari pihak yang telah dizaliminya. Apabila pihak yang dizalimi mengabulkannya, maka dirinya akan merasa lega dan beban yang dahulu dirasakan akan hilang.
Kesembilan belas, apabila pihak yang dizalimi memaafkan sang musuh, maka hati sang musuh akan tersadar bahwa kedudukan pihak yang dizalimi berada di atasnya dan dirinya telah menuai keuntungan dari kezaliman yang telah dilakukannya. Dengan demikian, sang musuh akan senantiasa memandang bahwa kedudukan dirinya berada di bawah kedudukan pihak yang telah dizaliminya. Maka tentu hal ini cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan dari sikap memaafkan.
Kedua puluh, apabila seorang memaafkan, maka sikapnya tersebut merupakan suatu kebaikan yang akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain, sehingga kebaikannya akan senantiasa bertambah.
Sesungguhnya balasan bagi setiap kebaikan adalah kontinuitas kebaikan (kebaikan yang berlanjut), sebagaimana balasan bagi setiap keburukan adalah kontinuitas keburukan (keburukan yang terus berlanjut). Dan terkadang hal ini menjadi sebab keselamatan dan kesuksesan abadi. Apabila dirinya melakukan pembalasan dendam, seluruh hal itu justru akan terluput darinya.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات[
4]
Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau-
Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Ingat yang Ini deh,,,.....



                  Ingat....!!
5 Perkara  
Sebelum 
5 Perkara
Kata tersebut sama artinya dengan lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kita sebagai manusia tempatnya lupa, kadang sering kali kita berbuat semau kita, tanpa harus memperhatikan apa yang kita perbuat. 


1. Pertama masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu
Kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini harus mengabdi kepada sang pencipta yang telah menciptakan kita di dunia kita. Kita harus bersyukur kepadaNya. Bila kita tidak mengucap syukur dan kita selalu berbuat semau kita pasti sang pencipta akan mengambil nyawa kita, sehingga kita sudah tak lagi hidup di dunia melainkan kita hidup ke alam selanjutnya yaitu akherat. Disana kita akan mempertanggung jawabkan semua apa yang telah kita perbuat selama kita diberi kesempatan hidup di dunia.. Jika kita sebagai manusia tidak bisa memanfaatkan sebaik mungkin maka celakalah kita. Kita hanya merasakan bahagia dalam dunia tapi kita tidak bisa merasakan bahagia di akherat. Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada sang pencipta. Jadi pergunakanlah masa hidupmu dengan sebaik mungkin karena bila tiba kematianmu kamu tidak bisa berbuat apa apa, Cuma penyesalan saja yang bisa kamu lakukan.
2. Pertama masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
Jika kamu diberi kesehatan maka syukurilah, jangalah kamu merusak tubuh yang diberikan sang pencipta kepadamu, kamu rusak dengan perbuatan yang dilarangNya. Bila kamu melakukan itu maka kamu akan merasakan sakit. Kalau sudah merasakan sakit maka semua aktifitas kamu akan terganggu dan kamu hanya bisa terbujur kaku di atas tempat tidur kamu. Kamu tidak bisa melakukan kegitan kamu karena kamu sakit. Allah menyayangi orang yang suka merawat tubuhnya dengan baik. Bila kamu sehat semua kegitan bisa kamu lakukan dengan baik dan kamupun bisa melakukan perintah perintahNya dengan baik. Dan pada akhirnya derajat kamu dinaikan. Jadi jangalah kamu nodai tubuh kamu dengan larangan laranganNya. Karena kamu akan merasakan sakit yang bisa membuat kamu tak nyaman dalam hidup ini.
3. Pertama masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
Pergunakan masa luangmu dengan kegitan kegiatan yang positif, sehingga kamu tak membuat orang lain kecewa dan kamu bisa merasakan bahagia. Apabila kamu selalu sibuk dan tak ada waktu untuk melakukan kegitan lain, maka rugilah kamu. Karena kebahagian itu tercipta ketika kamu bisa meluangkan waktu kamu untuk orang lain.
4. Pertama masa mudamu sebelum datang masa tuamu
Selama ini banyak sekali anak muda yang selalu menyianyiakan masa mudanya dengan hura hura, mengamburkan uang semau dia, foya foya, berkelahi, minum minum, judi dan hal yang paling parah adalah melakukan hal yang sangat hina, yang sangat dibenci oleh Allah. Nauzhubilah min zdhalik. Setelah tua baru menyesali perbuatannya. Kemudian bertobat. Atau tak jarang kita temui kalau sudah tua masih saja melakukan hal tersebut. Masya Allah, semoga kita tidak termasuk dalam hal itu. Amien..
5. Pertama masa kayamu sebelum datang masa miskinmu
Kekayaan merupakan anugrah dari sang pencipta kepada kita. Dan bila kita tidak mempergunakan dengan baik maka kita akan merasakan miskin akan semua hal yang tidak punya. Missal kita kaya dalam harta tetapi kita salah pergunakan maka suatu hari kekayaan tersebut diambil lagi. Kita jatuh miskin, sudah tak punya apa apa. Apa yang akan kita lakukan? Pasti kita akan melakukan hal hal yang negative. Semua itu bisa kita cegah dengan menyisikan sebagian harta kita untuk orang yang memerlukan, missal kepada anak yatim piyatu, panti asuhan dan hal yang tidak kita bayangkan kita bisa mendirikan Masjid(rumah Allah) maka Allah semakin sayang kepada kita dan harta kita bisa diberkahiNya.

Minggu, 11 Juli 2010

TERNYATA Justin Bieber DimintaTetap PERJAKA !!!

Justin Bieber mungkin sebagai idola remaja bagi jutaan wanita, tetapi bintang remaja berusia 17 tahun dari Canda itu tengah menempatkan masa pacarannya pada gaya hidup yang jujur dan diterima secara moral, kata ibunya, Pattie Mallette.

"Justin telah menyatakan keinginannya untuk tetap perjaka, menghargai dan memperlakukan wanita dengan cara terhormat," kata Pattie dalam sebuah cuplikan film E! Online "Justin Bieber: My World." "Jadi mudah-mudahan tetap seperti itu," ibunya menambahkan.

Sementara itu Justin sendiri mengatakan sulit menemukan wanita yang suka sama dia. "Sungguh sulit menemukan seorang cewek yang benar-benar suka sama saya dan mau untuk saya. Saat ini saya sangat sibuk, jadi boleh-boleh saja senang-senang dan bersantai sama cewek tetapi tidak usah terlalu serius," kata Justin.


Piye Lee,..sanggup ora????...hehehee
dikutip dari : www.unic77.tk:

Kamis, 08 Juli 2010

Bingkisan Sahabat,... (Tio Djati)

Maaf....Saya Minta Maaf....!!!
Penggalan kalimat dari suara hati yang mendesak agar diri ini meminta maaf....
Itulah manusia yang lengkap dan lebih sempurna diciptakan oleh Allah dibanding dengan makhuk lainnya di dunia ini, karena memiliki hati untuk merasakan apa yang tak bisa diketahui orang lain dan pikiran yang membuat manusia itu sendiri berpikir tentang sesuatu yang terjadi dari sebab hingga akibat.
Hati kita selalu ingin memberontak jika kita melanggar atau dengan kata lain jika kita berbuat yang tidak baik atau yang melanggar norma - norma kebaikan, karena Suara hati adalah perkataan yang paling jujur dan tidak bisa di bohongi,....Yang jadi masalah sekarang kenapa perbuatan ga baik itu tetapdilakukan...???
Menurut saya lho yaa, bahwa manusia di dunia ini memiliki nafsu, nafsu itu adalah keinginan yang secara akal sebenarnya itu hanya sesaat tapi itulah manusia yang ingin merasakan atau melibatkan diri untuk melakukan perbuatan yang tidak baik...Ketahuilah bahwa sebenarnya hati kita ini berteriak dan berkata "JANGAN DILAKUKAN"...dan bila kita telah melakukannya, hati pun berteriak kepada kita untuk berkata "TAUBATLAH" atau "MINTALAH MAAF"
Jika dengan tulus kita meminta maaf berarti kita telah mengakui akan kesalahan dan berarti kita menjadi berani untuk mempertanggung jawabkan atas apa-apa yang telah di perbuat, minimal terhadap hati kita yang selalu ingin kita untuk berbuat yang semestinya....
Melihat Televisi yang menyiarkan permohonan maaf dari cut tari dan luna maya,aku jadi terharu karena mereka berani untuk mengeluarkan kalimat maaf di depan publik, dan setidaknya ini adalah pertanggung jawabannya di depan orang-orang yang menyayanginya.....!!Allah Maha Pengampun Lagi Penyayang...
Maaf...Adalah Ungkapan diri sebagai awal untuk perubahan diri agar kelak tidak mengulanginya lagi,...Ungkapkan dengan Tulus dan bukan sebuah kebohongan karena Hidup tenang dari hati yang tenang bukan dari apa yang kamu miliki....
Bahagia Itu Tenang, Dan Ketenangan bersumber dari hatimu atas kedekatanmu pada Sang Pencipta...Semakin Banyak Pelanggaran tanpa merubah menuju kebaikan, hidupmu akan dikejar-kejar nafsu dan akal kita jadi kotor...Jangan deh ya, kita sama - sama berusaha untuk merubahnya agar keturunan kita kelak menjadi manusia yang buat kita tersenyum...
Salam Hangat dari SAHABAT...